367 views

Bacapres Anies Baswedan: Hapus Komersialisasi Pendidikan Tinggi dan Kembalikan Biaya Kuliah Serendah Mungkin

LIPUTANHUKUM-LH: Salah satu isi Kuliah Kebangsaan Bakal Calon Presiden (Bacapres) dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Prof H Anies Rasyid Baswedan, SE, MPP, Ph.D di FISIP Universitas Indonesi (UI) hari ini (Selasa, 29/08/2023) adalah terkait Komersialisasi Pendikan Tinggi. Menanggapi pertanyaan Ketua BEM FISIPOL UI M Rafkaliro terkait komersialisasi Perguruan Tinggi, menurut Anies, dirinya sudah mengkhawatirkan hal ini sejak tahun 1997 yang lalu. “ Setuju sekali, kalau boleh sedikit berbagi tentang rekam jejak, saya udah menulis tentang ini tahun 1997. Judulnya Industrialisasi Pendidikan Tinggi. Saya mengkhawatirkan sekali tahun 1997 gejala industrialisasi sudah masuk di Perguruan Tinggi di Indonesia. Dan ini gejala yang sekarang kita rasakan dampaknya “ pungkas Anies (Selasa, 29/08/2023).

Bacapres KPP itu melanjutkan, “ Kami termasuk yang melihat Perguruan Tinggi dan Pendidikan, semua pengeluaran Negara untuk ini jangan dipandang sebagai biaya, tapi harus dipandang sebagai investasi. Karena itu, kita tidak usah ragu untuk mengeluarkan anggaran yang cukup agar Perguruan Tinggi bisa untuk tempat pendidikan, bisa untuk pelatihan dalam pengertian untuk scientific, dan juga tempat menambah ilmu. Tidak dibebani tugas untuk mengelola dana untuk kegiatan ini. Negara yang harus hadir “ tandas Anies.

Tingginya biaya kuliah (UKT/SPP) saat ini, menurut Anies, harus diubah menjadi biaya yang murah yang dapat dijangkau seluruh lapisan Masyarakat. “ Kami melihat, biaya kuliah (UKT/SPP) yang sekarang tinggi harus diubah menjadi biaya yang murah yang terjangkau oleh seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Supaya apa ? Supaya pengelola Universitas itu konsentrasinya pada pengembangan ilmu pengetahuan, konsentrasi pada pengembangan Pendidikan, dan bukan semata-mata pada aspek bisnis dari Universitas ini. Kalau tidak, Mahasiswa pun dipandang sebagai Revenue Stream dipandang sebagai costomer sumber pendanaan. Dari mana memulainya ? bukan dari Rektornya, bukan dari Dekannya, tapi justru dari kebijakan Pemerintah Pusatnya. Justru itu yang harus diubah. Kalau itu tidak diubah, Dekan, Rektor akan terkunci itu “ ujar Bacapres Anies disambut tepuk tangan hadirin.

Oleh karena itu, menurut Anies, system pembiayaan ini harus diubah dan untuk Indonesia nilai yang dialokasikan itu tidak sebanding dengan manfaat yang akan kita dapatkan. Artinya, system pembiayaan Perguruan Tinggi yang sangat tinggi saat ini harus diturunkan karena ini merupakan investasi. Anies menganalogikan dengan bernostalgia dengan Para Professor yang hadir dalam acara ini dengan mengingat tentang murahnya uang kuliah pada zaman mereka (sebelum tahun 2000-an). Zaman itu, anak bukan siapa-siapa saja (selama mampu secara akademik) bisa kuliah di UI, UGM, ITB dan lain-lain tanpa khawatir akan biaya kuliah yang tinggi. “ Ini yang harus kita kembalikan. Rekruitmennya meritokratik biayanya ditanggung oleh negara sebagai bagian dari investasi “ tegas Anies.

Perlu disampaikan bahwa selain Anies, FISIP UI juga turut mengundang dua bakal capres lain yakni Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Namun, pada hari ini (29/08/2023) hanya Anies yang datang. Ia menjadi bacapres pertama yang mengisi kuliah kebangsaan tersebut.

Kuliah Kebangsaan FISIP UI tersebut mengambil tema Hendak ke Mana Indonesia Kita? Gagasan, Pengalaman dan Rancangan Para Pemimpin Masa Depan. Sebelumnya BEM UI melayangkan undangan kepada tiga bakal capres untuk datang ke kampus mereka guna beradu gagasan.

Beberapa panelis yang diminta naik panggung pada kegiatan ini untuk beradu gagasan dengan Bacapres Anies Rasyid Baswedan adalah, Guru Besar FISIP UI Prof Dr Bambang Shergi Laksmono, Prof Dr Valina Singka Subekti, Prof Sudarsono Hardjosoekarto. Kemudian Dosen Ilmu Komunikasi, Dr Umi Salamah; Suraya Affif Phd dari Dosen Antropologi; Dra Mamik Sri Supatmi dari Dosen Kriminologi; Asra Virgianita Ph.D dari Hubungan Internasional. (Rizky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.