1,514 views

Pemuda Batak Bersatu DIY Lakukan Aksi Damai Tumpas Premanisme

YOGYAKARTA-LH: Dewan Pimpinan Daerah Pemuda Batak Bersatu (DPD-PBB) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beserta jajaran dan anggotanya melakukan Aksi Damai sekaligus protes atas kematian Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta David Siallagan. Adapun topik utama yang diusung dalam aksi damai ini adalah ” Negara Tidak Boleh Kalah Dengan Premanisme “. Aksi Damai ini dipusatkan di Perempatan Tugu Yogyakarta (Sabtu, 14/05/2022). 

Berikut Release Lengkap Tuntutan Aksi Damai ini :

PRESS RELEASE

AKSI DAMAI DAN SOLIDARITAS MASYARAKAT BATAK YOGYAKARTA

Assalamu’alaikum Wr.Wb, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Syalom.

Horas, Mejuah-juah, Njuah-Njuah !

“Dikirim sekolah untuk menjadi Sarjana dan pulang membawa Ijazah, tapi siapa sangka yang pulang berisi peti jenazah “, sungguh menyakitkan rasanya menjadi keluarga David Siallagan Mahasiswa ISI Yogyakarta, asal Pematangsiantar, Sumatera Utara dan Tegar Imam Prakarsa, Mahasiswa Atmajaya Yogyakarta, Asal Bangka Belitung, anak yang diharapkan menjadi penerus keluarga, justru meninggal karna dibunuh.

Apakah pembunuhan ini persoalan para korban saja ? Tidak ! Bagi Kami Pemuda Batak Bersatu bersama seluruh elemen Masyarakat Batak dan Masyarakat Bangka Belitung khususnya melihat persoalan kekerasan yang mengakibatkan kematian belakangan ini menjadi persoalan semua Masyarakat Yogyakarta. Kami melakukan Aksi ini juga untuk mewakili suara-suara yang berbisik karena khawatir akan keselamatannya terancam jika bersuara lantang. Kekerasan demi kekerasan kerap terjadi di Kota Yogyakarta akhir-akhir ini, tentulah Pihak Kepolisian mengetahui dengan jelas  perihal itu.

“Jogja tak seperti dulu”, itulah pernyataan yang kerap kami dengar dari teman-teman alumni yang pernah tinggal dan hidup di kota ini. Sungguh tragis menyaksikan situasi keamanan Yogyakarta hari-hari ini. Menghabisi nnyawa seseorang melalui empat tusukan menjadi hal yang mudah dilakukan dijalanan. Alibi membela diri, empat tusukan dititik vital hanya dapat dilakaukan oleh orang yang terlatih. Terpukul, sangat terpukul bagi kami masyarakat Batak di Yogyakarta yang telah tinggal menetap lama di kota ini. Kami melihat satu kenidupan begitu berarti, namun nyatanya nyawa adik kami begitu mudah diambil orang yang bertingkah sebagai preman, angkuh, pongah, dan dan bangga dalam perilaku yang menyimpang. Berbekal senjatatajam lalu-lalang di Kota yang awalnya penuh keramahan dan kedaiaman.

Dahulu Yogya dikenal Kota yang ramah , tak perlu khawatir keluar rumah jam berapa saja. Bahkan club vespa kerap membantu orang-orang yang mogok dijalan tengah malam. Namun, hari-hari ini tampaknya setiap orang penuh rasa khawatir dan curiga, kecuali para pelaku kekerasan itu sendiri, berbekal senjata keliling-keliling kota. Kenakalan remaja sudah berubah wajah menjadi kejahatan jalanan yang menakutkan. Sampai kapan, jika Negara tidak bertindak tegas terhadap hal ini ? Apakah keramahan Jogja yang kita kenal dulu sudah berakhir ? Berubahwajah, menjadi kota yang sejuk dan basah bagi para penikmat darah sesama ?

Dalam Aksi Damai ini, Kami masyarakat Batak Yogyakarta menyuarakan kepada Pemerintah Daerah, Negara dalam hal ini diwakili oleh Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tentara Nasional Indonesia untuk bertindak tegas terhadap segala aksi premanisme dan kekerasan, juga peka terhadap aktivitas oknum-oknum tertentu yang terlibat dalam aksi dan kegiatan premanisme di seluruh wilayah Yogyakarta. Sesuai Konsep PRESISI KAPOLRI, transformasimenuju Polri yang Prediktif, responsibilitas, trasparansi yang berkeadila. Bahwasannya Anggota Polri diharapkan memiliki kemampuan memprediksi situasi dan kondisi yang menjadi isu dan permasalahan serta potensi gangguanKAMTIBMAS berdasarkan analisa data, fakta, dan informasi. Kepolisian diharapkan lebih peka dan sensitive terhadap suara-suara bisik masyarakat yang mengeluhkan aktivitas premanisme yang kerap mengintimidasi, mengancam, dan meneror masyarakat di wilayah kota Yogyakarta.

Negara tidak boleh kalah dengan premanisme, sekuat apapun akar dan pengaruhnya, Negara tidak boleh dan tidak akan pernah tunduk pada premanisme sebagai salah satu ruang yang membesarkan tindakan kekerasan di sebuah wilayah.

Kami masyarakat Batak di Yogyakarta berpegang pada prinsip “ di mana Bumi dipijak,  di situ langit di junjung “. Maka dari itu Kami Masyarakat Batak Yogyakarta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan, mengembalikan Yogyakarta pada marwahnya,   sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya, yang memberikan perlindungan kepada siapapun yang bernaung di dalamnya. Yogyakarta bukanlah Kota preman yang melindungi aktivitas dan kegiatan illegalyang menguntungkan segelintir orang ataupun oknum tertentu, namunmerugikan bagi banyak orang, bahkan cenderung merusak tatanan kehidupan bermasyarakat di wilayah Yogyakarta.Kami mengajak kepada siapapun untuk tidak pernah takut melawan kepongahan individu maupun kelompok yang merasa diri superior yang kerap mempertontonkan perilaku kekerasan ditengah masyarakat Yogyakarta.

Melalui seremoni pelepasan  Dua Ekor Burung Merpati Putih yang kami harapkan dapat dilakukan oleh Bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Ibu Gusti Kanjeng Ratu Hemas sebagai symbol telah berpulangnya banyak jiwa di Yogyakarta akibat penganiayaan maupun kekerasan jalanan kehadapan Sang Khalik, juga sebagai simbol berakhirnya kekerasan jalanan di Yogyakarta, cukuplah adik Kami yang terakhir menjadi yang teakhir, jangan pernah ada lagi dikemudian hari. Itulah mimpi Kita bersama.

Melalui Aksi damai ini Kami menyerukan Yogyakarta bersih dari praktek dan kegiatan premanisme, mendukung Bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas dalam mengambil langkah tegas dalam upaya membersihkan wilayah Yogyakarta dan pelaku kekerasan tanpa pandang bulu. Mendukung KAPOLDA dan DANREM  untuk melakukan pembersihan terhadap kegiatan dan aktivitas premanisme di wilayah Yogyakarta, termasuk melakukanscreening terhadap oknum-oknum yang turut terlibat dalam mem-backup segala kegiatan premanisme yang bertentangan dengan Undang-Undang dan Marwah Kota Yogyakarta Tentram, Aman, Damai bagi semua yang berada didalamnya.

Negara harus memberikan rasa Aman pada rakyatnya, dan Negara tidak boleh kalah oleh premanisme. Cukup adik Kami yang terakhir, jangan ada nyawa yang hilang sia-sia. Jangan ada lagi pelaku kekerasan yang harus menerima kenyataan hidup dalam bilik penjara, jangan berlari dalam rasa bersalah. Mari bergandengan tangan untuk kehidpan yang damai, penuh cinta dan kasih.

Horas

Mejuah-juah

Njuah-njuah! “

(Hemad-Bintang/Red)

 Video Terkait :

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.