403 views

Ekonom Senior Rizal Ramli: Sebaiknya Pemilik Media Adalah Pemred Agar Tidak Terjadi “Serving People In Power”

JAKARTA-LH: Ekonom Senior Dr. Ir. Rizal Ramli, MA pada Acara Talkshow Indonesia Lawers Club (ILC) TV-One (15/12/2020-Red) yang dipandu Presiden ILC Karni Ilyas berjudul “Renungan Akhir Tahun: Dampak Tekanan Ekonomi. Ibu Bunuh Anak, Suami Bakar Istri” memberikan kritikan sekaligus masukan terkait keberadaan Media Massa di Indonesia.

Salah satu yang disoroti Rizal Ramli saat menjadi salah satu Nara Sumber pada Talksshow ILC tersebut adalah terkait Pola dan Struktur Bisnis Media di Indonesia. “ Kesimpulannya sederhana, bisnis Media hari ini sifatnya itu Oligopolistik. Pemainnya cuman 7, 8 kali yang besar. Yang satu, Satu Group punya Channel TV lebih dari 20 biji Digital. Ada yang punya belasan ada yang punya apa. Nah, secara ekonomi, struktur media kayak begini, namanya Oligopoli. Kalau dia oligopoly, dia selalu Serving People In Power (Melayani Orang yang Berkuasa-Red). Selalu servis kekuasaan. Karena strukturnya Oligopli. Tetapi kalau strukturnya Kompetitif, dia akan selalu mendekatkan diri lebih banyak ke rakyat “ pungkas Mantan Menteri di Era Presiden Gus Dur dan Era Jokowi ini.

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas pengertian Oligopoli adalah keadaan pasar dengan suatu komoditas yang hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan. Persaingan antar Perusahaan sangat ketat dan strategi pasarnya dilandasi oleh daya cipta. Produk yang dihasilkan sangat beragam dan jenisnya dapat berbeda pada masing-masing produsen. Tiap perusahaan dalam pasar Oligopoli memberikan pengaruh yang besar bagi perusahaan lainnya sehingga timbul ketergantungan satu sama lain.

Masih mengutip pemaparan Rizal Ramli, “ Nah, Pemilik-Pemilik Media ini dapat sesuatu ‘Inrichten’. Gampanglah, dapat Proyek, dapat Akses terhadap Kredit BUMN, dapat Legal Imunity. Ada Pengusahanya yang harusnya masuk penjara karena gak bayar pajak, tapi karena punya Media kagak jadi masuk penjara “ ujar Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Tahun 2015 ini mengkritisi.

Selanjutnya, “ Yang mesti kita ubah nanti kalau ada perubahan, Strutur yang Ologopolistik ini harus kita ganti dengan Struktur yang Kompetitif. Pemilik Media kalau bisa Pemred-Pemred aja gak usah Pengusaha “ harap Rizal Ramli yang pernah menjadi Kabulog Era Presiden Gus Dur ini.

Rizal Ramli berharap agar Media di Indonesia kembai ke Tupoksi-nya (Tugas Pokok dan Fungsi)-nya seperti yang dilakukan oleh Para Jurnalis Senior Masa Pergerkan masa lampau yang selalu berpihak kepada Rakyat. “ Zaman kita pergerakan kemerdekaan begitu kok. Muktar Lubis, Rosihan Anwar, dan semua memang Pemred yang jadi Pemilik sehingga dia tidak punya kepentingan bisnis untuk selalu menserving yang Kuasa. Supaya Media kita itu menjadi Media Pergerakan yang berpihak kepada rakyat “ ujar Orang yang pernah menjadi Menko Perekonomian Era Presiden Gus Dur ini .

Rizal Ramli menyadari bahwa mengembalikan Media kembali Tupoksinya bukanlah hal yang mudah Untuk itu, Rizal memberikan win win solution agar Media yang sudah kembali Tupoksi-nya tetap bisa hidup secara ekonomis. “ Tapi, tentu harus kita pikirkan bagaimana supaya Media seperti itu bisa hidup. Pemrednya jadi Pemilik sama Redaksinya. Saya belajar dari teman Saya namanya Marzuki Usman Bekas Ketua Bapepam. Dulu, Media Ekonomi Bisnis kagak laku gak ada yang mau baca. Akhirnya, Marzuki Usman keluarin Peraturan setiap Peruhaan Go-Publik harus melaporkan Laporan Keuangan yang diaudited di 2 Media setiap semester. Hidup tu sampai sekarang pungkasnya optimis.

Oleh karena itu, menurut Mantan Menteri Keuangan Era Pemerintahan Gus Dur ini ada hal penting yang harus dirubah dalam Dunia Media ke depan. Salah satunya adalah dilibatkannya Media untuk mempublikasikan laporan keuangan Para Kepala Daerah di seluruh Indonesia. “ Jadi nanti kita akan minta kalau kita ingin mengubah Dunia Media Kita ini. Satu, setiap laporan keuangan 430 Bupati, 34 Gubernur yang diaudited harus dimuat di 2 Media Nasional Online atau tidak. Otomatis dia (Media) hidup “ paparnya.

Rizal Ramli berpendapat bahwa Sistem Seleksi Kepemimpinan yang bersifat Nepotisme dan Feodalisme harus dirubah untuk kemajuan Bangsa Indonesia. “ Kita harus ubah Sistem Seleksi Kepemimpinan Kita ini. Yang Nepotisme, Yang Feodal hanya membawa kemunduran bukan membawa kemajuan bagi Bangsa Kita “ ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Orang yang pernah menjadi Anggota Tim Panel Penasihat Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama Beberapa Tokoh Ekonom dari Berbagai Negara lainnya ini memberikan harapan yang optimistis sekaligus prediksi akan mulai bergesernya Media Massa ke Media Sosial, dan akan semakin bergesernya kembali nilai dan fungsi media kembali Tupoksi yang sesungguhnya. Bagi Media yang tetap mempertahankankan Oligopolisitiknya perlahan tapi pasti akan ditinggal Para Pemirsa dan Pembaca. “ Tapi saya percaya Bang Karni, ini lagi bergeser semua. Media resmi seperti TV mulai bergeser ke Sosial Media, ke Youtuber. Jadi, Pemimpin Media yang hanya ngikut ke Kekuasaan , Ikut Perintah Kekuasaan justru akan kehilangan daya tariknya dan dia lupa justru akan kehilangan bargainingnya sama yang berkuasa. Justru karena dia kritis-kritis dikit, dia punya bargaining sama yang punya kuasa. Tapi kalau dia manut aja … akan ditinggalin kok sama masyarakat pendengar. Jadi, justru harusnya Media kalau mau dapat lifresh secara bisnis semakin sehat justru dia harus semakin kritis dalam suasana begini bukan semakin manut istilahnya sama yang kuasa saja “ papar Rizal Ramli Pada Acara Talkshow ILC TV-One yang merupakan Acara Terakhir ILC karena akan ‘direhatkan’ untuk jangka waktu yang belum dapat ditentukan. (Fahdi/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *