498 views

TENSI POLITIK MENJELANG PILKADA DI MUSIRAWAS MENINGKAT

MUSIRAWAS-LH: Suksesi Kepala Daerah di Kabupaten Musirawas dalam Hajatan Pesta Demokrasi Pilkada Serentak 9 Desember Tahun 2020 kian menunjukkan bahwa Tensi Politik mulai meningkat. Balon Bupati Pertahana H2G yang hingga saat ini sudah mendapat dukungan dari Partai Nasdem, PKS, PAN, PBB hingga saat ini belum menentukan siapa Balon Wakil yang akan digandengnya. Ditengah kegamangan Petahana H2G memilih wakilnya, dilain sisi eskalasi politik semakin dinamis dalam membangun koalisi penantang pertahana.

Tampak tadi malam (Selasa/14 Juli 2020) Poros Tiga Parpol yakni Golkar (Ketua DPD Golkar Firdaus Ce Ola), Gerindra (Ketua DPC Gerindra/Wabup Musi Rawas) dan PKB (Ketua DPC PKB Musi Rawas H. Moch. Pianto) tampak mengadakan Silaturahim Politik guna melakukan penjajakan politik terkait Pengusungan Suwarti-FCO.

Silain sisi, menanggapi pernyataan salah satu Petinggi Partai dalam pemberitaan yang dimuat di Media Lokal tentang pengusungan Suwarti-HRW itu hanya opini yang berkembang. Ditemui di RM. Saung Sempurna Lubuklinggau (Selasa/14 Juli 2020), Ketua DPD Golkar Kota Lubuklinggau H. Rody Wijaya menjawab ” Selaku kader partai kita ini punya tanggung jawab moral, kalau kita lihat dari luar arena bahwasanya dalam suatu pertandingan itu ada penonton dan ada pemain, dan penonton itu ada yang lebih jeli dari pemain. Kita lihat hari ini, Golkar itu merasa dipandang sebelah mata baik oleh Pertahana maupun Partai-Partai Politik lainnya. Jadi, sebagai Kader Partai punya tanggung jawab moril untuk membesarkan organisasi yang kita cintai ini. Bagaimanapun, Saya pernah mengabdi di Musi Rawas, pernah sebagai Legislator dari daerah kelahiran Saya sendiri “ pungkasnya.

Dijelaskannya juga, Pria yang saat ini menjabat Ketua DPRD Lubuklinggau, “ bahwa asumsi orang untuk beropini dan lain sebagainya sebuah hal yang positif yang harus kita bangun bersama, tidak ada upaya saling menjatuhkan karna walaupun bagaimana Golkar ini harus kita angkat bersama-sama, kader Golkar bukan milik seseorang saja tapi milik seluruh kader partai. Justru potensi itu kita gali, selaku orang politik kita harus cermat “ tambahnya.

Ditanya terkait komunikasi yang telah dibangun dengan kandidat-kandidat lainnya, HRW menjawab ” Alhamdulillah Saya dihubunngi, itu perlu digarisbawahi, diminta untuk bersedia menjadi pendamping oleh partai-partai yang lain juga untuk kandidat yang lain karna mungkin dengan pertimbangan-pertimba dan melihat rekam jejak kita selama ini. Selain itu, karena saya mendaftar tentu nama kita dibawa sampai ke Tingkat Pusat jadi jangan kita berpikiran sempit yang berpikiran lokal saja. Kita harus berpikir siapa yang bisa membawa ditingkatan Propinsi dan Tingkat Nasional, sehingga mereka itu lah yang memperjuangkan nasib kita nanti ” ujar HRW.

Ketika dicecar lebih lanjut dengan pertanyaan, jika nantinya HRW yang direkomendasikan DPP Partai Golkar akan berpasangan dengan salah satu kandidat (Suwarti), Ketua KAHMI Kota Lubuklinggau ini menjawab ” Selaku Kader Partai, Kita siap dengan segala konsekuensinya dan kita berharap seluruh infrastruktur partai yang ada, kader partai di seluruh Tingkatan: Desa, Kecamatan apapun perintah dari DPP harus kita patuhi. Mulai sekarang, Kita harus lakukan konsolidasi hingga tiba saatnya kita merangkul seluruh lapisan masyarakat. Kita telah lakukan komunikasi politik dengan lebih dari satu partai, dan Saya siap bila diperintahkan partai sebagai Calon Bupati atau Wakil Bupati “ jawabnya.

Terkait kesepakatan koalisi yang dibangun Ketum DPP Golkar dan Gerindra pada pilkada serentak Desember 2020, apakah termasuk di Musi Rawas? HRW menjawab “ No Coment dulu, karena ini ranah-nya Petinggi DPP partai masing-masing “ jawabnya diplomatis.

Terkait bagaimana komunikasi HRW dengan Pengurus Golkar Musi Rawas, Ketua KONI Lubuklinggau ini menjawab ” Komunikasi intensif, baik Kader di Tingkat Kecamatan, Pengurus DPD Kabupaten maupun Fraksi Golkar “ ujarnya.

Ditegaskan HRW juga, bahwa penugasan yang diberikan partai saat itu untuk mencari koalisi dan untuk mencari pasangan, ketika penugasan itu sampai limit waktunya belum tercapai, artinya suatu kegagalan dan kegagalan ini jangan sampai partai yang dirugikan. “ Jadi, Partai di tingkatan atas mencari solusi-solusi terbaik mencari alternatif solusi. Artinya, kalaupun solusi satu tidak terpenuhi, partai akan mencari solusi kedua , ketiga dan seterusnya “ tutup HRW. (Awang/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.