675 views

KOTA PELAJAR YANG BELUM MELIBURKAN PARA PELAJAR, MENGAPA?

YOGYAKARTA-LH: Yogyakarta terkenal sebagai Kota Pelajar sejak zaman dulu. Mengapa istilah “Kota Pelajar” melekat pada Kota Gudeg ini ? Jawaban Utamanya adalah karena ada begitu banyak kampus di kota ini. Alasan selanjutnya adalah karena kota Jogja memiliki kampus yang berkualitas dan juga memiliki fasilitas yang sangat baik. Alasan lainnya adalah karena hampir seluruh daerah yang ada di Indonesia ada Warganya (Putra/Putrinya) yang menimba ilmu di Yogyakarta, baik itu yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi maupun di Tingkat SMP/SMA.

Oleh karena itu, dilain sisi mungkin tidak berlebihan kalau ada yang menjuluki Yogyakarta sebagai “Indonesia Mini” sebab hampir semua Daearah yang ada di Tanah air mempunyai Putra/Putri-nya di Yogyakarta khususnya untuk menimba ilmu. Bahkan termasuk Tugas Belajar dari berbagai Instansi dan atau yang juga mengambil Jenjang Pendidikan Strata 2 dan Strata 3.

Dari kondisi ini, berarti dapat juga diasumsikan bahwa mobilisasi orang keluar masuk Yogyakarta cukuplah tinggi. Selain masyarakat umum yang terkait dengan Sektor Pendidikan, Yogya juga terkenal sebagai salah satu Daerah Wisata yang cukup terkenal baik di dalam Negeri maupun di Mancanegara. Tourist Lokal maupun Mancanegara, Para Orang Tua/Keluarga yang ingin mengunjungi dan atau mendampingi Putra/Putri yang sedang belajar di Yogyakarta tentunya juga menambah semakin tingginya mobilisasi Orang keluar masuk Yogyakarta.

Hal ini didukung lagi dengan adanya Dua Bandara yang beroperasi di Yogyakarta, selain Transportasi Darat baik melalui Jalan Raya maupun Kereta Api. Sehingga Propinsi berpenduduk 3,8 Juta (Data BPS Tahun 2018-Red) ini juga diduga cukup rawan terhadap penyebaran Virus Corona (Covid-19). Namun sampai berita ini ditayangkan, bahwa Yogyakarta belum meliburkan Sekolah seperti yang sudah dilakukan berbagai daerah lain di tanah air. Baru Perguruan Tinggi yang meliburkan Proses Belajar Mengjar di Kampusnya, itupun baru sebahagian,

Terkait belum diliburkannya Sekolah di Kota Pelajar ini, menurut Sekda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta R. Kadarmanta Baskara Aji dikarenakan Pihaknya masih mengedukasi Orang Tua supaya anak-anak belajar di rumah tidak kemudian justru keluar. “ Kami akan Edukasi Para Orang Tua dulu, nanti supaya anak-anak belajar di rumah tidak kemudian justru keluar dan jalan di tempat-tempat umum, karena itu risikonya jauh lebih banyak ” pungkas Sekda DIY itu (Sabtu, 14/03/2020-Red).

Masih menurut Baskara Aji, bahwa tujuan diadakannya edukasi lebih dulu adalah agar Para Orang Tua dan Masyarakat sudah siap dulu ketika anak-anak didik harus belajar di rumah akibat merebaknya Virus Corona. Menurutnya, berbeda dengan kebijakan kampus, sebab mahasiswa sudah terbiasa belajar jarak jauh dan memahami Resiko Virus Corona serta cara mengantisipasinya. ” Kalau sekolah, Kami Edukasi dulu Para Orang Tua. Bagaimana menjaga anak-anak saat belajar di rumah. Kalau kantor, jalan seperti biasa. Kecuali yang sakit kita silakan libur ” lanjut Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY itu.

Ketika hal ini coba dikonfirmasi Redaksi LH kepada Plt. Kadispora DIY Bambang Wisnu Handoyo melalui Whats-App Telepon Selularnya (Selasa, Pukul 11:39 WIB; 17/03/2020-Red) tampak Tanda Ceklis 2 namun tidak direspon. Kemudian, diulang lagi Pada Rabu Malam (18/03/2020-Red) hasilnya tetap sama, Ceklis 2 namun tidak ada respon sampai berita ini ditayangkan.
Sementara itu, untuk kebijakan Pendidikan Tinggi terkait Antisipasi Penyebaran Virus Corona di Yogyakarta, ada 4 Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang telah mengambil keputusan untuk meniadakan sementara perkuliahan di dalam kampus guna mengantisipasi penyebaran virus corona. Keempat Kampus Perguruan Tinggi tersebut adalah Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

Dalam Surat Edaran Rektor No. 1604/UN1.P/HKL/TR/2020, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memutuskan sejumlah kebijakan terkait proses pembelajaran.Salah satunya adalah menggantikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di dalam kampus dan kelas dengan Metode KBM Daring atau Metode Pembelajaran Lainnya, efektif berlaku sejak mulai 16 Maret 2020. ” UGM memberlakukan status Siaga Covid-19, sejak Surat Edaran ini diterbitkan,” pungkas Rektor UGM Panut Mulyono dalam keterangan tertulisnya (Sabtu, 14/03/2020-Red).

Sementara itu, Rektor UNY Sutrisna Melalui Instruksi Rektor Nomor 1 Tahun 2020 memberikan Instruksi yang berisi Tentang Penyesuaian Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran, Layanan Akademik, dan Layanan Umum untuk Pencegahan Penyebaran Covid-19 di UNY. Menurut Sutrisna, ada delapan poin dalam instruksinya yang secara umum menekankan pemanfaatan fasilitas online dalam perkuliahan dan kegiatan akademik. ” Kami harapkan dengan kebijakan kuliah online, risiko penyebaran virus dapat diminimalisir dengan tetap menjaga kegiatan perkuliahan ” himbau Rektor UNY tersebut.

Kemudian, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Sahiron juga menerbitkan Surat Edaran No 53 Tahun 2020 tentang Kebijakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terkait Pencegahan Covid-19. Ada 10 poin pencegahan Covid di Lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diantaranya, menggelar KBM melalui sistem online dan penugasan, serta penjadwalan ulang kegiatan praktik laboratorium, praktik lapangan, dan KKN. ” Dilarang bepergian Ke Luar Negeri dan Kota-Kota Dalam Negeri Yang Terkonfirmasi Covid-19 “ bunyi kutipan Surat Edaran tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta Muhammad Irhas Efendi, melalui Edaran No. 9/UN62/TA 05.14/2020 Memerintahkan agar Pelaksanaan Perkuliahan Per 30 Maret 2020 sampai berakhirnya Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020 dilakukan Tanpa Tatap Muka. Praktikum dijadwal ulang, KKN dan Magang ditunda, dan Rencana Wisuda Pada 18 April 2020 Mendatang Ditiadakan.

TANGGAPAN DAN PENDAPAT GUBERNUR DIY SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X

Terkait Keputusan yang sudah diambil oleh Perguruan Tinggi di Yogya tersebut terkait Antisipasi Penyebaran Virus Corona, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X mengaku masih melihat Imbas Kebijakan Kuliah Online yang dilakukan kampus di Yogyakarta untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona. Menurut Raja Keraton Yogya itu, Kampus yang menggelar kuliah Secara Online bagi mahasiswanya selama dua minggu perlu ditinjau kembali. ” Bagi kami ada sedikit masalah, apakah mahasiswa di seluruh kampus di DIY 300 Ribu dan yang asli Jogja hanya 10-15 berarti 46 ribu sisanya pendatang ” pungkas Sri Sultan di Gedhong Pracimasono Yogyakarta (Senin, 16/03/2020-Red).

Menurut Sultan, Jumlah Mahasiswa begitu banyak tersebar di DIY. Sementara waktu libur hanya dua minggu, maka dinilai kurang efektif bagi mahasiswa untuk terhindar dari paparan virus Corona. ” Nanti masuk akhir bulan. Seminggu Tanggal 14 kuliah lagi. Pertanyaan Saya adalah apakah dia tetap di Jogja atau pulang. Kalau pulang ke daerahnya tidak khawatir ” ujar Sultan.

Selain alasan itu, menurut Gubernur Yogyakarta ini bahwa jika Mahasiswa tetap libur dan Kuliah Online namun tetap di Jogja belum bisa dipastikan tidak bepergian. Kondisinya akan berbeda jika mahasiswa pulang ke daerahnya dan tidak pergi dari rumah demi terhindar dari virus Corona. ” Kalau tidak pulang, tetap dirumah atau pergi ? Saya mantaunya susah. Kalau pulang tidak ada masalah “ ungkap Sultan dengan nada tanya.

Oleh karena itu, Sri Sultan HB X ini menyarankan agar mahasiswa itu memiliki keputusan untuk pulang dan tidak terkena Corona maka waktu liburnya harus dibuat satu bulan penuh. Sehingga Mahasiswa bisa memilih pulang. ” Kalau dibuat Pas 1 Bulan, Dia pasti pulang. 1 April kuliah, Seminggu kuliah lagi , Saya yakin dia tidak pulang. Ini yang kami dialogkan dengan kampus swasta dan negeri “ papar Raja Keraton Yogyakarta itu.

Dalam kaitannya dengan Anak Sekolah yang belum juga diliburkan terkait antisipasi penyebaran Virus Corona, menurut Sultan kondisinya juga sama dengan Mahasiswa. Jika sekolah libur namun tetap bisa dipastikan di rumah maka hal itu dinilai tidak lebih baik jika berada di sekolah. ” Kalau Libur, Dia di Rumah atau dolan (pergi dari rumah). Harapan saya di rumah, tapi kalau di rumah apa iya tidak dolan? Berarti kan resikonya tetap besar kena corona. Mending ke sekolah “ ujar Sultan berpendapat. (Hemad/Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.