50 views

Ambiguitas Politik Prabowo

KARAWANG, liputanhukum.com:
Langkah Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini memperlihatkan strategi komunikasi politik yang bermuatan makna, entah itu untuk audiens internasional ataupun domestik.

Jika disobek dari sisi sosiologi dan psikologi politik, ada dua peristiwa penting yang menonjol: pidatonya di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan kemunculan polemik seputar buku “Islam Ala Prabowo”.

Satu contoh, pidato di depan Putin, Presiden Prabowo tegaskan bargaining position di mata asing. Presiden Prabowo jadi tamu kehormatan di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, (03/09/2026). Di hadapan Putin, secara psikologis ia menempatkan Indonesia bukan sebagai negara follower tetapi entitas berdaulat yang setara.

Psikologi kepemimpinan (ketegasan dan respek), Prabowo memakai kalimat “Kami menghormati semua kekuatan”. Melansir laman presidenri.go.id, (03/09/2026). Secara psikologis, ini adalah bentuk ketegasan (assertiveness). Ia merangkul Rusia tanpa menggeser Blok Barat. Prabowo memainkan memori kolektif historis dengan mengingatkan bagaimana Uni Soviet membantu kemerdekaan Indonesia, membangun kedekatan emosional dengan Putin tanpa harus tunduk.

Dari sisi sosiologis, Prabowo jalankan diplomasi “mendayung di antara dua karang” yang sudah dimodif. Dengan menawarkan kolaborasi melalui lembaga sovereign wealth fund Danantara—yang disebutnya punya aset kelola 1 triliun dolar AS—untuk jembatani pasar modal Rusia dan Indonesia, Prabowo mengubah narasi ideologis menjadi transaksional-pragmatis yang saling menguntungkan.

Di kancah domestik, terbitnya buku “Islam Ala Prabowo”, cara Prabowo Subianto mengamalkan ajaran Islam, diluncurkan Agustus 2025 tapi kembali memanas September 2026 ini, menunjukkan upaya rekayasa sosial (social engineering) buat memperkuat legitimasi di kelompok mayoritas.

Di Indonesia, legitimasi politik bergantung banget pada irisan identitas keagamaan. Buku Islam ala Prabowo secara sosiologis berfungsi sebagai instrumen “pembaptisan politik” yang memframing Prabowo sebagai lokomotif keagamaan dan keumatan. Tujuannya untuk mengkonsolidasikan dukungan dari basis Islam, menghapus stigma masa lalu, dan membangun trust di kalangan grassroots.

Buku ini picu polemik lantaran sangat disayangkan, mencatut nama-nama penting, seperti, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atawa Gus Kautsar, dan mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, sebagai penulis atawa kontributor tanpa izin. Melansir Ruminews, (07/09/2026).

Secara psikologi politik, blunder pencatutan nama ini justru merugikan. Saat para tokoh agama tersebut melakukan bantahan secara publik, hal itu picu ketidaknyamanan psikologis
(cognitive dissonance) pada pendukungnya. Alih-alih membangun trust, strategi ini justru mencuatkan persepsi manipulasi.

Presiden Prabowo memainkan dua persona berlainan. Di panggung internasional, ia tampil dominan, setara, dan pragmatis, kayak yang tampak di depan Putin. Sisi lain, di panggung domestik, lewat narasi buku Islam ala Prabowo, kubunya masih merasa perlu memakai politik identitas dan sokongan tokoh agama buat mengamankan jangkar legitimasi sosiologisnya di mata pemilih Muslim. Sayang banget, eksekusi domestik ini tersandung soal etika pencatutan nama yang justru melukai karakter komunikasi politiknya. (Jun Biull)

*Sumber:
Presidenri.go.id
CNBC Indonesia
Ruminews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.