642 views

Timteng TEGANG PD III Diambang Pintu: Rusia, Cina, dan Korut Secara Terbuka Membantu Iran Melawan AS dan Israel 

LIPUTANHUKUM.COM: Situasi geopolitik global khususnya di Timur Tengah (Timteng) pada awal tahun 2026 ini menunjukkan peningkatan ketegangan yang sangat tinggi. Ancaman AS dan Sekutunya Israel yang ingin memaksa Iran untuk tunduk atas keinginannya terutama terkait nuklir, tampaknya tidak akan dihuraukan Negara dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Agung Sayyid Ali Khamenei ini.

Kendatipun Amerika Serikat (AS) telah memerintahkan pasukannya merapat ke Timur Tengah termasuk memerintahkan merapatnya 2 Kapal induk, namun Iran tidak bergeming bahkan menantang.

Foto Pemimpin Tertinggi Iran 

Keberanian Iran ini diduga kuat juga akibat dukungan penuh dari Negara Adidaya yakni Rusia, Republik Rakyat Cina (RRC) dan Korea Utara. Bahkan ketiga negara ini telah secara terang-terangan memberikan pasokan bantuan militer ke Iran.

Kondisi ini lah yang banyak pihak mengkhawatirkan akan memicu perang yang semakin meluas dan membesar yang pada akhirnya dapat menyulut Perang Dunia Ke III.

Berikut adalah rangkuman situasi berdasarkan informasi per Februari 2026:
1. Peningkatan Ketegangan Iran-AS: 
Hubungan Iran dan AS memanas tajam di awal 2026, ditandai dengan serangan terhadap situs-situs Iran dan kehadiran armada AS di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan potensi serangan balasan total jika AS memilih jalur konfrontasi;
2. Dukungan Rusia, China, dan Korut: 
Rusia, China, dan Korea Utara dilaporkan bersiap membantu Iran menghadapi ancaman AS dan Israel. Rusia, khususnya, memperkuat kemitraan strategisnya dengan Iran melalui perjanjian komprehensif, sementara China dan Rusia secara terbuka memperingatkan AS untuk tidak mengambil langkah militer di Iran;
3. Kerja Sama “Poros” (KRINK): Analis mencatat adanya kolaborasi yang semakin dalam antara Rusia, China, Iran, dan Korea Utara (sering disebut sebagai KRINK) dalam menghadapi sanksi Barat, termasuk barter teknologi rudal dan minyak, serta potensi bantuan militer;
4.Perjanjian Nuklir Berakhir: 
Berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir New START antara Rusia dan AS pada 5 Februari 2026 meningkatkan risiko perlombaan senjata nuklir dan potensi perang skala besar!
5. Kondisi di Lapangan:
Latihan militer bersama “Will For Peace 2026” yang melibatkan Iran, Rusia, dan China di Afrika Selatan menambah ketegangan dengan AS. Sementara itu, upaya diplomasi terus dilakukan untuk meredakan ketegangan, seperti perundingan di Oman, meskipun belum membuahkan hasil yang signifikan.
Meskipun narasi “Perang Dunia III” menguat, situasi saat ini lebih berbentuk perang hibrida dan konfrontasi strategis, dengan risiko tinggi konflik fisik berskala besar.
Apa Pendapat Tokoh Dalam Negeri Indonesi ?
1. Presiden Prabowo Subianto;
Indonesia telah berkali-kali menyoroti ancaman Perang Dunia III, menekankan bahwa persaingan hegemoni global yang berbahaya dan penggunaan senjata nuklir adalah ancaman nyata bagi dunia. Bahkan, satu tahun sebelumnya (April 2025), Presiden Pranowo sempat memprediksi bahwa jika perang terjadi, kemungkinan besar akan bermula dari Iran;
2. Presiden Ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY);
SBY memperingatkan pada Januari 2026 bahwa situasi dunia mirip dengan era menjelang Perang Dunia I dan II, dengan risiko perang total atau nuklir yang nyata.
Selain Presiden Prabowo dan SBY, Analis Pertahanan juga menilai ada peluang 30-50% perang besar meletus dalam dekade ini.
Terkait titik rawan konflik pada 2026,  menurut para pengamat militer khususnya, terdapat di beberapa wilayah yang dinilai sebagai titik rawan meletusnya konflik global terutama di Timur Tengah (Iran-AS): Konflik Iran dan Amerika Serikat serta sekutunya dianggap sebagai salah satu pemicu utama.

Bagaimana Nasib Indonesia ?

Meskipun situasi genting, posisi Indonesia yang non-blok dipandang penting. Namun, jika perang nuklir terjadi, dampaknya akan dirasakan secara global. Indonesia juga sempat dikabarkan sebagai salah satu wilayah yang dinilai lebih aman jika konflik pecah, karena faktor geografis, namun tetap tidak luput dari dampak ekonomi dan geopolitik.Situasi saat ini dinilai masih bisa dicegah, namun ruang untuk diplomasi semakin sempit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.