2,283 views

Diundang Kadis LHK Sumut Atas Tindak Lanjut Laporannya Terkait Dugaan Illegal Logging Di Hajoran, Rombongan Pelapor Diserang OTK Di Perjalanan 

FOTO  Barang Bukti Batu dan Undangan Nomor: 000.1.5/ 3797/ DIS LHK-PPHPK/ VII/ 2025 Tertanggal 08 Juli 2025

LIPUTANHUKUM.COM: Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kadis LHK) Sumatera Utara Ir Yuliani Siregar M.AP telah melayangkan surat undangan bernomor: 000.1.5/ 3797/ DIS LHK-PPHPK/ VII/ 2025 Tertanggal 08 Juli 2025 perihal Undangan Pembahasan Pengaduan Masyarakat. Para pihak yang diundang adalah Amman Munthe sebagai Pelapor, RS Hasibuan dari NGO-ILE sebagai Pendamping, Media AFJNEWS.Online, LMRI KOMDA Labura, Kepala Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, Kepala UPT KPH Wilayah III Kisaran, dan Kepala UPT KPH Wilayah V Aek Kanopan.

Sesuai undangan Kadis LHK Sumut tersebut, para undangan diminta hadir di Kantor LHK Sumut pada Jum’at Tanggal 11 Juli Pukul 10.00 WIB.

Rombongan Pelapor Amman Munthe bersama RS Hasibuan (NGO-ILE), dan Hendra (Wakil PU AFJNEWS dan LMRI KOMDA Labura) berangkat dari Labura menggunakan mobil sekira Pukul 22.00 WIB (10/07/2025) menuju Medan.

Ditengah perjalanan, sekitar Pukul 00.05 WIB (11/07/2025) tepatnya di Jembatan Kembar Pulau Raja Kabupaten Asahan, seorang laki-laki Orang Tak Kenal (OTK) mengenderai Sepeda Motor jenis Honda Revo menggunakan helm dan berjaket hitam melempar mobil yang digunakan rombongan dengan batu. Setelah melemparkan batu, Pelaku langsung berbelok arah dan terjatuh.

Sempat rombongan mau berhenti, tapi setelah melihat dari kaca spion diduga ada komplotan pelaku di belakang yang menggunakan Mobil, rombongan memutuskan untuk terus melaju dan akhirnya berhenti di Mapolsek Pulau Raja Asahan untuk meminta perlindungan.

Atas himbauan dan masukan dari salah satu petugas kepolisian Polsek Pulau Raja  yang menemui rombongan, akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Medan. ” Hati-hati Pak. Mudah-mudahan gak apa-itu. Mungkin cuman orang mabuk itu ” ujar Petugas yang bersangkutan (11/07/2025).

” Kami melanjutkan perjalanan, namun kami meningkatkan kewaspadaan ” tandas RS Hasibuan di Medan (11/07/2025).

Di salah satu Alfa Midi Kisaran, rombongan berhenti untuk mengisi E-Toll. RS Hasibuan turun, dan mengisi E-Toll. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan. ” Saya memang curiga, ada 3 sepeda motor yang selalu melihat mobil kami dan memoto-moto. Kemudian, tiba-tiba ada mobil hitam yang memepet parkir di samping kami. Tapi kami langsung berangkat ” ujar Hendra di Medan (11/07/2025).

” Sekitar 10 menit setelah berangkat dari Alfa Midi, tiba-tiba dua orang laki-laki (OTK)bergoncengan mengenderai sepeda motor melompat dan langsung menghajar kami dengan batu sebesar tinju berkali-kali. Sambil mengatakan ‘mampus kau’. Salah satunya mengenai bahu kiri saya. Dan batunya masih saya simpan sebagai barang bukti ” kata RS Hasibuan menceritakan kejadian.

Melihat situasi yang tidak kondusif, lanjut RS Hasibuan,  dan kawanan OTK ini semakin banyak, maka rombongan memutuskan untuk menghindar dan mencari perlindungan. ” Kami dikejar, paling tidak ada 3 sepeda motor dan beberapa unit mobil yang kami duga itu komplotan mereka ” tambah RS Hasibuan.

” Kami mau mencoba berhenti ke Mapolres Asahan namun melihat banyaknya yang mengejar kami, kami akhirnya memutuskan untuk menghindar dulu, dan akhirnya kami masuk Asrama TNI Sibogat Kisaran. Setibanya kami di rumah famili itu sekitar Pukul 01.45 WIB, yang bersangkutan dihubungi tidak mengangkat ponselnya. Sementara itu, salah satu mobil yang mengejar kami sudah tiba. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun memutuskan untuk berangkat dan menghindar ” papar RS Hasibuan menceritakan peristiwa yang mencekam itu.

Bak Film Action, timbal Hendra, rombongan terus melaju dan terus dikejar oleh kawanan OTK itu. Paling tidak ada 3 Unit mobil yang terus mengejar. Salah satu Plat Polisinya dibuka. Hingga akhirnya, rombongan masuk Tol Indra Pura. Di Tol pun masih terjadi kejar-kejaran, hingga akhirnya rombongan keluar dari Gerbang Tol Amplas Medan dan berhasil selamat di rumah salah satu kerabat dari rombongan.

Melihat peristiwa yang mereka alami, baik RS Hasibuan maupun Hendra, menduga bahwa kejadian direncanakan secara matang, rapi dan terorganisir. ” Kalau kami terpancing melawan, bukan tidak mungkin kami akan dihabisi melihat mereka (OTK) itu cukup banyak dan ada dimana-mana sepanjang rute perjalanan kami ” tutup RS Hasibuan yang diaminkan Hendra.

Ketika ditanya, apakah kejadian ini sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib, baik RS Hasibuan maupun Hendra menyampaikan bahwa mereka sedang mempelajarinya dulu sambil melakukan investigasi dan mengumpulkan bukti-bukti terkait kejadian ini. Termasuk mempelajari siapa otak intelektualnya. (TIM-Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.