182 views

Jelang Akhir Masa Jabatannya, Gubernur Anies Nyatakan Siap Dicapreskan

LIPUTANHUKUM.COM: Setelah sekian lama dinanti-nantikan banyak pihak, akhirnya Gubernur DKI Jakarta Prof H. Anies Rasyid Baswedan, PhD menyatakan dirinya siap menjadi Calon Presiden (Capres) Tahun 2024. Hal ini disampaikan Anies di Singapura dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Reuters. ” Saya siap mencalonkan diri sebagai presiden jika ada partai mencalonkan saya ” pungkas Anies Baswedan kepada Reuters (16/09/2022).

Anies Baswedan akan berakhir masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober 2022 yang akan datang. Tentunya, pasca berakhirnya masa jabatan sebagai Gubernur, maka secara otomatis dirinya akan memiliki waktu yang lebih cukup untuk mempersiapkan dirinya sebagai Calon Presiden.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah apa saja persyaratan yang harus dipenuhi Anies untuk menjadi seorang Capres. Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dalam Pasal 169 huruf q UU disebutkan bahwa usia minimal untuk seseorang bisa menjadi capres dan cawapres adalah 40 tahun. Selain itu, capres dan cawapres juga harus mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan melaksanakan kewajiban membayar pajak dalam 5 tahun terakhir.

Masih menurut UU No 7 Tahun 2017 Pasal 169 huruf r, pendidikan paling rendah adalah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat.

Capres dan cawapres 2024 juga disyaratkan tidak boleh mempunyai riwayat dipenjara karena melakukan tindak pidana yang ancaman hukumannya 5 tahun atau lebih. Selanjutnya, capres dan cawapres juga disyaratkan tidak pernah mengkhianati negara serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya.

Selain persayaratan tersebut, Anies yang ingin menjadi Capres juga harus memenuhi syarat ambang batas pencapresan atau yang lebih dikenal dengan istilah Presidential Threshold. Capres dan Cawapres harus didaftarkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik pemilik 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional. Aturan itu tertuang dalam Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017. ” Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya “ demikian bunyi pasal 222 UU Pemilu itu.

Persyartan ini lah yang masih belum ditangan Anies secara Defakto dan Dejure. Namun, pada takaran wacana dan rencana paling tidak ada 3 Parpol yang digadang-gadang akan melakukan koalisi untuk mencapreskan Anies yaitu Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari hasil Pemilu 2019 yang lalu, ketiga Parpol ini memiliki Jumlah Kursi di DPR-RI sebesar 163 Kursi dengan perincian Partai Nasdem 59 Kursi, Demokrat 54 Kursi, dan PKS 50 Kursi. Dengan total gabungan suara 3 partai ini sudah terlampaui Presidential Threshold yakni 115 Kursi DPR-RI.

Kembali kepada pengumuman dirinya (Anies Baswedan) yang siap dicapreskan, mendapat tanggapan beragam dari berbagai pihak. Ketua Umum Konfederasi Nasional Relawan Anies untuk Presiden 2024 Ramli Rahim menyampaikan kebahagiaan dan ketenangan pihaknya atas pengumuman ini. “ Seacara umum kami menunggu pernyataan ini. Pernyataan tersebut membuat kami Para Relawan tenang menghadapi semuanya. Dan Alhamdulillah, sekarang Relawan Anies ada dimana-mana bahkan sampai ke RT/RW “ tandas Ramli kepada CNN Indonesia.

Apabila ketiga partai (Nasdem, Demokrat, dan PKS) berhasil berkoalisi untuk mendukung Anies maka paling tidak ada 3 Sosok Politikus Senior sangat berpengaruh di Indonesia yang akan berada di belakangnya yaitu Mantan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), dan Surya Paloh. Pengaruh ketiga tokoh ini tentunya sangat besar karena mempunyai akar rumput yang besar.

SEKILAS TENTANG ANIES

Dikutip dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas nama lengkapnya adalah Prof H. Anies Rasyid Baswedan, SE, MPP, Ph.D. Lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan Jawa Barat. Merupakan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang menjabat sejak 16 Oktober 2017 hingga saat ini (16/10/2017 – 16/10/2022) menggantikan posisi Djarot Saiful Hidayat.

Sebelumnya, Anies pernah menjadi Menteri Pendidikan (27 Oktober 2014 – 27 Juli 2016). Ia dikenal sebagai pencetus Indonesia Mengajar, sebuah gerakan bagi generasi muda untuk direkrut sebagai pengajar muda di Sekolah Dasar dan masyarakat selama satu tahun. Anies juga pernah menjadi Rektor Universitas Paramadina dari 15 Mei 2007 sampai dengan 6 Januari 2015.

Anies merupakan cucu dari Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan, seorang jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dalam keluarga, Anies mempunyai dua saudara kandung yang menjadi adik-adiknya yakni Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan.

Anies dibesarkan di Yogyakarta dan orang tuanya bekerja sebagai akademisi. Ayahnya Rasyid Baswedan adalah mantan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sedangkan ibunya Aliyah Rasyid adalah guru besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi.

Karier politiknya mulai menjadi sorotan banyak pihak ketika Partai Gerakan Indonesia Raya dan Partai Keadilan Sejahtera mengusungnya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan berpasangan dengan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Dan melalui 2 putaran, akhirnya Anies-Sandi berhasil memenangkan pertarungan dan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

PENDIDIKAN

Masih mengutip dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Anies mulai mengenyam pendidikan awal pada usia 5 tahun dan bersekolah di Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada Kota Yogyakarta. Menginjak usia Enam Tahun, Anies bersekolah di SD Negeri Percobaan 2, Kabupaten Sleman. Di masa kecilnya, Anies dikenal sebagai anak yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Setelah menyelesaikan jenjang sekolah dasar, ia melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama dan diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Anies bergabung dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya dan menduduki jabatan pengurus bidang Hubungan Masyarakat yang terkenal dengan sebutan “seksi kematian”, karena tugasnya mengabarkan kematian. Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panitia tutup tahun semasa sekolah menengah pertama.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), Anies meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta. Dia tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus pelajar Ketua OSIS seluruh Indonesia. Alhasil, ia terpilih menjadi Ketua OSIS seluruh Indonesia pada tahun 1985.

Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989. Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik. Dia bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.

Menginjak jenjang perguruan tinggi, Anies diterima masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1989. Dia tetap aktif berorganisasi, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Universitas Gadjah Mada.

Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa di fakultasnya dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa setelah dibekukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas (UGM) melalui Kongres pada 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan.

Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif dan memposisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993. Masa kepemimpinannya juga ditandai dengan dimulainya gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang menyangkut Hutomo Mandala Putra, putra dari Presiden Soeharto. Dia turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.

Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Universitas Sophia Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis bertemakan lingkungan. Hingga pada akhirnya, Anies lulus dari Universitas Gadjah Mada tahun 1995.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi Universitas Gadjah Mada, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari American Indonesian Exchange Foundation (bahasa Indonesia: Yayasan Pertukaran Pelajar Indonesia–Amerika) untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs Universitas Maryland pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998.

Sesaat setelah lulus dari Maryland, Anies kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Northern Illinois University pada tahun 1999. Dia bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004.

Disertasinya yang berjudul Regional Autonomy and Patterns of Democracy in Indonesia menginvestigasi efek dari kebijakan desentralisasi terhadap daya respon dan transparansi pemerintah daerah serta partisipasi publik, menggunakan data survei dari 177 kabupaten dan kota di Indonesia. Dia lulus pada tahun 2005. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.