685 views

Bagaimana Sistem Pemerintahan Afghanistan Setelah Dideklarasikan Menjadi “Emirat Islam Afghanistan” oleh Taliban ?

LIPUTANHUKUM.COM: Setelah merebut semua daerah Afghanistan yang terdiri dari 34 Provinsi, akhirnya Taliban mengumumkan pembentukan “Emirat Islam Afghanistan”. Pengumuman ini disampaikan oleh Juru Bicaranya Zabihullah Mujahid melalui Twitter resminya (Kamis, 19/08/2021). Pendeklarasian “Emirat Islam Afghanistan” dilaksanakan bertepatan dengan 102 Tahun Kemerdekaan Negara itu dari Pemerintahan Inggris dan 4 Hari setelah Militan Taliban merebut Kabul.

Pengumuman “Emirat Islam Afghanistan” sekaligus perayaan kemerdekaan ke 102 Tahun Afghanistan itu dilakukan Taliban dengan deklarasi Telah Mengalahkan Kekuatan Arogan Dunia Amerika Serikat.

Taliban pernah memerintah Afghanistan antara Tahun 1996 hingga Tahun 2001 yang kemudian Koalisi negara-negara barat melakukan invasi untuk menggulingkan rezim Taliban setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat yang menewaskan hampir 3.000 orang. Pasukan gabungan yang dipimpin Amerika Serikat, termasuk pasukan Australia, melakukan serangan untuk menghancurkan Taliban yang melindungi Usamah bin Laden dan gerakan teroris Al Qaeda-nya. Sejak saat itu, Taliban menjadi Oposisi dengan cara bergerilya.

Pertanyaan yang paling mendasar kemudian adalah Bagaimana Sistem Pemerintahan di Afghanistan setelah Taliban kembali merebutnya ? Dari nama yang dideklarasikan mereka (Emirat Islam Afghanistan), hampir dapat dipastikan bahwa Negara ini akan menerapkan Hukum Islam (Syariah Islam) yakni sebuah Hukum Negara yang berazaskan kepada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Muhammad SAW.

Penerapan Hukum Islam telah diterapkan di Negara ini saat Taliban memimpin pada Tahun 1996 hingga 2001 yang lalu. Namun, akan terjadi perbedaan mendasar pada penerapan Hukum Islam pada kepemimpinan Taliban yang baru dideklarasikan ini. Dalam penerapan Hukum Islam yang akan dilkaksanakan Era Taliban Baru ini, Perempuan dibenarkan untuk bekerja dan Agama lain dilindungi serta diberi kebebasan untuk melaksankan ajaran agamanya. Dimana pada Era Lama (1996 – 2001) hal ini tidak terjadi. Perubahan mendasar ini sebagaimana disampaikan oleh Pimpinan Taliban melalui Jurubicaranya Zabihullah Mujahid saat pertama kali memberikan keterangan Pers pasca keberhasilan Taliban merebut Ibukota Kabul (15/08/2021).

Taliban saat ini dipimpin oleh pemimpin tertingginya bernama Hibatullah Akhundzada. Pemimpin tertinggi Taliban memiliki 3 Wakil yaitu Putra Mullah Omar bernama Mawlavi Yaqoob, pemimpin jaringan milisi Haqqani Sirajuddin Haqqani, dan Abdul Ghani Baradar yang mengepalai Kantor Politik Taliban di Doha dan merupakan salah satu Anggota Pendiri kelompok tersebut.

Puncak kesuksesan Taliban menguasai seluruh Afghanistan termasuk Ibukota Kabul terjadi setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menarik Pasukannya yang telah 20 Tahun di Negara itu. Penarikan Pasukan AS ini telah membuat nyali Presiden Afghanistan Ashraf Ghani ciut dan terpaksa melarikan diri dan meninggalkan negaranya. Presiden AS Joe Biden menyebut bahwa kurun waktu 20 Tahun itu sebagai “perang tak berkesudahan”.

Lebih dari 150.000 Orang Tewas selama perang di Afghanistan sejak Tahun 2001. AS kehilangan lebih dari 2.000 Tentara serta menghabiskan Triliunan Dolar untuk operasi militernya. Puluhan ribu warga sipil dan tentara Afghanistan kehilangan nyawa mereka. Sebanyak 41 Prajurit Australia tewas, dan para mantan prajurit kini dikhawatirkan akan mengalami masalah kejiwaan karena melihat hasil perjuangan mereka yang kini berbalik dan dimenangkan Taliban.

(Dikutip Dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.