391 views

Galian C Diduga Tanpa Izin Di Sukatani-Purwakarta Disegel Oleh Tim Gakkum KLHK

PURWAKARTA-LH: Galian C yang terletak di Kampung Cilampahan 18,7 seluas Hektare dan Galian C di Kampung Citapen Seluas 13,7 Hektare Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta, Jawa Barat diduga beroperasi Tanpa Izin sehingga dilakukan Penyegelan oleh Tim Gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) setelah sebelumnya mendapat pengaduan dari Masyarakat setempat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum KLH Sustyo Iriyono. ” Operasi Penindakan ini bermula dari Pengaduan Masyarakat ” pungkas Sustyo melalui Siaran Persnya (Sabtu, 13/02/2021-Red).

Melalui Siaran Pers tersebut, Sustyo menjelaskan bahwa aktivitas Galian C itu telah menimbulkan kerusakan Lingkungan dan membahayakan kehidupan masyarakat setempat.

Pada Operasi tersebut, Tim Gabungan berhasil mengamankan 2 Orang yang diduga sebagai Penanggung Jawab masing-masing berinisial DS (46 Tahun) dan MY (35 Tahun) yang mana keduanya merupakan Warga Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Selain mengamankan 2 Orang tersebut, Tim Gabungan ini juga menyita Barang Bukti berupa 5 Unit Ekskavator dan 23 Unit Dump Truk.

Pelaksanaan Operasi dari Tim Gabungan ini sesuai komitmen dari Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani yang mengatakan bahwa KLHK tidak akan berhenti menindak tegas Pelaku Kejahatan Lingkungan Hidup termasuk Tambang Ilegal yang termasuk kategori kejahatan karena menimbulkan kerusakan lingkungan. ” Penindakan ini harus menjadi peringatan bagi Pelaku Kejahatan Lingkungan Hidup dan Kehutanan lainnya. Kita tidak boleh membiarkan Pelaku Kejahatan Tambang Ilegal ” tegas Rasio Ridho Sani.

Atas perbuatannya, Pelaku dijerat dengan Pasal 98 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Ancaman Pidana Penjara Maksimal 10 Tahun dan Denda Maksimal Rp10 Miliar.

” Pasal 98 Ayat (1)
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan Pidana Penjara Paling Singkat 3 (Tiga) Tahun dan Paling Lama 10 (Sepuluh) Tahun dan Denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (Tiga Miliar Rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah);

Pasal 98 Ayat (2)
Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud Pada Ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 4 (empat) Tahun dan paling lama 12 (Dua Belas) Tahun dan Denda paling sedikit Rp4.000.000.000,00 (Empat Miliar Rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000.000,00 (Dua Belas Miliar Rupiah);

Pasal 98 Ayat (3)
Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud Pada Ayat (1) mengakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 5 (Lima) Tahun dan paling lama 15 (lima belas) Tahun dan Denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (Lima Miliar Rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (Lima Belas Miliar Rupiah) ” demikian bunyi Pasal 98 Ayat (1-3) UU No 32 Tahun 2009.

Dari hasil pantauan LH (liputanhukum.com) Tambang Pasir dan Tanah serta Batu Ilegal masih cukup marak di daerah ini bahkan sampai ke Subang dan sekitarnya. “ Semoga di kampung kita ini juga ditindak itu Para Penambang Ilegal. Kalau Kita mah gak berani mengusiknya Kang “ pungkas salah seorang Warga Ciasem Subang kepada Wartawan LH (Minggu, 14/03/2021-Red). (Zaibul/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *