609 views

Dituntut JPU Hukuman Mati, 8 Oknum Polisi Perekayasa Kepemilikan 327 Kg Ganja Hanya Divonis Hakim 10-20 Tahun

MEDAN-LH: Pengadilan Negeri (PN) Medan Sumatera Utara menggelar Sidang dengan Agenda Pembacaan Putusan terhadap 8 Orang Oknum Polisi dan 1 Orang Warga Masyarakat Biasa yang didakwa Merekayasa Kepemilikan 327 Kg Narkotika Kelas A berupa Ganja Pada Selasa (12/01/2021-Red) di PN Medan Jl. Pengadilan No 8, Medan Petisah, Kota Medan. Kedelapan Oknum Polisi tersebut terakhir bertugas di Polres Padang Sidempuan Sumatera Utara.

Adapun Majelis Hakim yang menyidangkannya adalah Hakim Ketua Tengku Oyong, Martua Pandapotan (Anggota), Dedi Azwar Anas Harahap (Anggota), Jarihat Simarmata (Anggota) dan Martua Sagala (Anggota). Sementara 9 Orang Terdakwa dan 8 diantaranya adalah Oknum Polisi masing-masing bernama Witno Suwito, Edy Anto Ritonga alias Gaya, Martua Pandapotan Batubara, Rory Mirryam Sihite, Andi Pranata, Dedi Azwar Anas Harahap, Rudi Hartono, Antoni Fresdy Lubis, dan Amdani Damanik.

Pada Sidang sebelumnya, Jaksa Penuntu Umum (JPU) menuntut Para Terdakwa dengan Tuntutan yang berpariasi:
1. Bripka Witno Suwito dan Seorang Warga Sipil bernama Edy Anto Ritonga alias Gaya dituntut Hukuman Mati;
2. Aiptu Martua Pandapotan Batubara, Eks Kanit IV Sat Narkoba dituntut Hukuman Seumur Hidup’
3. Sementara 6 Orang yakni Briptu Rory Mirryam Sihite, Bripka Andi Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, dan Brigadir Amdani Damanik dituntut dengan 20 Tahun Penjara.

Dalam Nota Tuntutannya, JPU Abdul Hakim Sorimuda Harahap melalui JPU Anita menyebutkan, Ketiga Terdakwa yakni Witno Suwito, Edy Anto Ritonga alias Gaya dan Martua Pandapotan Batubara dinilai bersalah melanggar Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. ” Tanpa Hak atau Melawan Hukum melakukan Permufakatan Jahat menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I bentuk tanaman Jenis Daun Ganja Kering ” tuntut JPU Arnita dalam Sidang yang digelar Secara Virtual di Ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri Medan Pada akhir Tahun 2020 yang lalu (29/12/2020-Red).

Namun, Pada Sidang Putusan yang dilaksankan Pada Selasa (12/01/2021-Red) Majelis Hakim yang dipimpin oleh Tengku Oyong sebagai Ketua Majelis, memberikan Vonis yang sangat berbeda dengan Tuntutan JPU. Bripka Witno Suwito dan Edy Anto Ritonga alias Gaya hanya dijatuhkan hukuman 20 Tahun Penjara yang tadinya dituntut oleh JPU dengan Hukuman Mati. Sementara Aiptu Martua Pandapotan hanya Divonis 13 Tahun Penjara yang tadinya dituntut oleh JPU dengan Hukuman Seumur Hidup. Denda masing-masing dari Mereka Rp 1 Miliar dengan Subsider 6 Bulan Kurungan.

Ketiganya terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “ Terdakwa tersebut di atas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melawan hukum melakukan tindak pidana menerima narkotika golongan 1 bukan tanaman yang beratnya melebihi 1 Kg sebagaimana dakwaan primer ” ujar Hakim Jarihat Simarmata membacakan Putusannya (12/01/2021-Red).

Kemudian yang 6 Personel Lainnya (Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, Brigadir Amdani Damani, Briptu Rory Mirryam Sihite, Bripka Andi Pranata dan Brigadir Dedi Azwar Anas) hanya Divonis 10 Tahun Penjara dan Denda Rp 1 Miliar dengan Subsider 6 Bulan Kurungan yang tadinya dituntut JPU Masing-masing 20 Tahun Penjara.

Atas Vonis yang diputuskan Majelis Hakim yang menyidangkan Perkara ini yang jauh dari tuntutannya, JPU Abdul Hakim Sorimuda Harahap mengatakan akan berkordinasi terlebih dahulu dengan atasannya. “ Sikap Kami selaku JPU, akan Kami laporkan ke Pimpinan Kami. Nanti biar Pimpinan yang menentukan sikap ” ujar Abdul Hakim seusai sidang (12/01/2021-Red).

Kronologis Kejadian

Berdasarkan Dakwaan yang dibacakan JPU Abdul Hakim Sorimuda Harahap, bahwa kasus ini berawal Bulan Pebruari Tahun 2020, dimana Edi Anto Ritonga alias Gaya menerima Order dari Mulia (DPO). Saat itu, Mulia menyerahkan 15 Karung berisi Ganja dan menyampaikan kepada Gaya bahwa Modalnya adalah Rp 1,6 Juta Per Kg sehingga Total Modalnya sekitar Rp 400.000.000.

Barang Haram itu kemudian dibawa dan disimpan di Gudang Samping Rumah Gaya yang terletak di Jalan Alboin Hutabarat Gang Dame Kampung Darek Kelurahan Wek VI, Kecamatan Padang Sidempuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Selanjutnya, Pada 27 Pebruari 2020 Kampung Darek digerebek Satuan Reserse Narkoba Polres Tapanuli Selatan sekitar 500 meter dari Rumah Gaya. Akibatnya, timbul rasa ketakutan dari Gaya dan keesokan harinya Gaya meminta Mulia untuk mengambil Barang 15 Karung berisi Ganja itu dari rumahnya. “ Gaya: Angkat dari sini ganja ini, kalau enggak aku buang. Mulia: Jangan, nanti ada yang jemput ” kata JPU Abdul Hakim menirukan pembicaraan antara Gaya dan Mulia pada saat membacakan tuntutannya (29/12/2020-Red).

Nah, sementara itu di hari yang sama, Edi Santoso alias Edi Ramos (DPO) menghubungi Bripka Witno Suwitno. Edi Ramos menyampaikan kepada Bripka Witno Suwitno mau menyerahkan Ganja Miliknya yang ada di Kampung Darek dengan syarat dirinya dan Edi Anto Ritonga tidak ditangkap.

Singkat ceritanya, Bripka Witno Suwito bersama 7 Rekan Satu Unitnya bertemu dengan Edi Anto Ritonga dan Kucok (DPO). Mereka memasukkan sejumlah Karung Plastik berisi Narkotika Jenis Ganja ke Mobil Daihatsu Terios Putih, dan Honda Jazz Putih yang digunakan aparat kepolisian. Para Oknum Personel Kepolisian ini akhirnya menyepakati Ganja itu diletakkan di Areal Perkebunan PTPN-III Desa Tarutung Baru, Kecamatan Padang Sidempuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan.

Mereka kemudian melapor ke atasannya telah menemukan Narkotika yang tak bertuan. Total ganja yang ditemukan seberat 327 Kg. Namun, akhirnya rekayasa ini terbongkar dan Kedelapan Oknum Personil Kepolisian itu pun diamankan. Demikian dikutip dari Tuntutan yang dibacakan JPU Abdul Hakim Sorimuda Harahap.

Walaupun Hakim telah memutus tidak sesuai Tuntutan JPU, masih ada Upaya Hukum yang bisa ditempuh oleh Aparat Penegak Hukum (APH) untuk memaksimalkan hukuman kepada Para Terdakwa/Terpidana dalam kasus yang bombastis ini. Upaya Hukum yang dimaksud antara lain adalah adanya Banding dari JPU. Bila pada Tingkat Banding pun belum sesuai Tuntutan JPU, masih ada Upaya Hukum Kasasi. Terakhir, masih ada Upaya Hukum Luar Biasa yakni Peninjauan Kembali (PK). Semua itu kembali kepada APH yang menangani Perkara ini, baik JPU nya maupun Para Hakim yang akan menanganinya Pada Tingkat Banding dan Kasasi nanti. (Badri/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *