843 views

Satgas PKH Sedang Investigasi Menyeluruh Penyebab Bencana Banjir dan Longsor Di Sumatera Termasuk Pembalakan Liar dan Illegal Logging

FOTO RIBUAN KAYU GELONDONGAN YANG TERBAWA ARUS BANJIR BANDANG DI TAPTENG DIDUGA AKIBAT PERAMBAHAN HUTAN DAN ILLEGAL LOGGING (26/11/2025) 

 

” Besok kami akan rapat bersama untuk menurunkan tim gabungan untuk melakukan proses penyelidikan dan pendalaman terkait peristiwa itu ”  tungkas Kapolri di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur (Rabu, 03/12/2025).

JAKARTA-LH: Pemerintah, melalui Satuan Tugas Penegakan Hukum (Satgas PKH), akan serius melakukan investigasi untuk menelusuri dugaan kejahatan lingkungan, seperti pembalakan liar dan praktek illegal logging  yang ditengarai menjadi salah satu penyebab terseretnya gelondongan kayu saat banjir bandang terjadi di Sumatera khususnya di Tapanuli Tengah Sumatera Utara pada 26 November 2025 yang lalu.

Hal ini disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan persnya di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur.  “Selain faktor cuaca ekstrem, ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana. Ini terus ditelusuri serius ” pungkasnya (Rabu, 03/12/2025).

Menurut Teddy, Satgas PKH  sedang menelusuri penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor di beberapa daerah di Sumatera. Ia mengklaim Satgas itu akan menelusuri secara serius mengenai dugaan kerusakan lingkungan yang memperparah bencana tersebut.

Teddy mengatakan pemerintah fokus mengevaluasi dan menginvestigasi penyebab bencana tersebut. Pemerintah juga terus berkonsentrasi untuk mengevakuasi dan menangani warga yang terdampak bencana.

Untuk saat ini, lanjut Teddy, Pemerintah sedang berkonsentrasi untuk mengevakuasi dan menangani warga yang terdampak bencana.

Pemerintah melalui Seskab Teddy mengakui adanya kerusakan lingkungan yang signifikan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdampak bencana. ” Seiring dengan evakuasi dan penanganan sebagai fokus utama, pemerintah mengevaluasi dan menginvestigasi secara menyeluruh terkait bencana ini ” tandas Teddy.

Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) Pratikno mengatakan Satgas PKH sudah turun tangan menyelidiki kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Sumatera. ” Saat ini Satgas PKH sudah turun tangan menelusuri gelondongan kayu ” ujar Pratikno

Tim Gabungan Polri dan Kehutanan Akan Selidiki Temuan Gelondongan Kayu Yang Tersapu Banjir Bah

Penjelasan Kedua Menteri Kabinet Presiden Prabowo ini sejalan dengan pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Listyo mengatakan Tim Gabungan Polri dan Kementerian Kehutanan akan menyelidiki temuan gelondongan kayu yang tersapu arus air bah di Sumatera. Kedua lembaga akan membahas proses penyelidikan itu pada Kamis 4 Desember 2025. ” Besok kami akan rapat bersama untuk menurunkan tim gabungan untuk melakukan proses penyelidikan dan pendalaman terkait peristiwa itu ”  tungkas Kapolri di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur (Rabu, 03/12/2025).

Menurut Jenderal Listyo, Polri sudah berkomunikasi dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengenai pembentukan tim tersebut. ” Tentunya bila ada pelanggaran hukum akan kami proses ” tegasnya.

Ratusan Nyawa Melayang, Ribuan Luka-Luka dan Jutaan Warga Terkena Dampaknya

Banjir dan longsor di sejumlah daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak pekan lalu mengakibatkan ratusan orang meninggal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat bencara ini Per Rabu, 3 Desember 2025, sebanyak 743 orang.

Di samping itu, sebanyak 630 orang masih dinyatakan hilang dan 2.600 orang luka-luka. Total masyarakat yang terdampak bencana ini sebanyak 3,3 juta orang yang tersebar di 50 kabupaten-kota. Rinciannya, sebanyak 1,5 juta jiwa di Aceh, 1,7 juta jiwa di Sumatera Utara, dan 141, 8 ribu jiwa di Sumatera Barat.

Gambaran bencana Sumatera itu ramai di media sosial, sejak hari pertama terjadi. Berbagai rekaman video dan foto tentang bencana Sumatera ini beredar di dunia maya. Misalnya, video gelondongan kayu yang terbawa arus banjir di Sumatera, pada akhir November 2025. Dalam video itu, air bah membawa batang-batang pohon dari hulu. Di rekaman video lainnya tampak gelondongan kayu berserakan di beberapa tempat di Sumatera Barat.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menyebut tujuh perusahaan yang diduga menjadi penyebab kerusakan ekologis di Ekosistem Batang Toru dan kawasan sekitarnya. Walhi menduga deforestasi yang masif mengakibatkan banjir dan longsor semakin parah, terutama di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Walhi menilai penyebab bencana ini bukan hanya faktor cuaca ekstrem, tetapi dipicu oleh kerusakan tutupan hutan. (Dessy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.