101 views

Cibeet, Riwayatmu Dulu dan Nasibmu Sekarang

VIDEO Keadaan Sungai Cikereteg Desa Tamanmekar Kecamatam Pangkalan Kabupaten karawang (05/09/2026)

KARAWANG, liputanhukum.com:  Bendung Cibeet yang berlokasi di Dusun Kaligandu Desa Wanajaya Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang dan berbatasan dengan Kampung Sogol Desa Pasirranji Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat punya peran penting dalam riwayat pengelolaan sumber daya air dan infrastruktur irigasi di wilayah perbatasan Karawang dan Bekasi.

Bendung Cibeet awal dibangun sekitar 1960-an, motivasinya bakal membagi plus mengatur debit aliran Sungai Cibeet (anak Sungai Citarum yang berhulu di wilayah pegunungan Kabupaten Bogor) yang melintasi perbatasan Kabupaten Bekasi dan Karawang.

Tujuan utama pembangunan infrastruktur hidrolik ini adalah pengendalian banjir guna mengontrol pasokan air dari sungai Cibeet saat musim hujan buat meminimalisasi resiko luapan banjir di kawasan hilir. Mengalirkan pasokan air untuk mendukung lahan pertanian sawah di wilayah Karawang dan Bekasi.

Di hilir, wilayah aliran irigasi (sekunder) bertemu dengan saluran Kalimalang yang berfungsi membagi pasokan air yang dialirkan menuju saluran irigasi Tarum Barat (Kalimalang) dan menuju titik pertemuan utama dengan Sungai Citarum di daerah Tanjungpura, Karawang, entah buat kebutuhan irigasi pertanian atawa pasokan air baku.

Luas dan lucutan irigasi pertanian cakupan wilayah Kecamatan Telukjambe Barat, persawahan teknis dan non-teknis mencakup persawahan di sepanjang koridor Desa Wanajaya, Desa Wanakerta, dan Desa Wanasari tercatat sekitar 2.000 hingga 2.100 hektar sawah. Dengan sistem jaringan irigasi yang dibendung di Dusun Kaligandu dialirkan melalui saluran sekunder dan tersier ke lahan pertanian ketiga desa: Desa Wanajaya, Desa Wanakerta dan Desa Wanasari, yang menjaga kontinuitas indeks pertanaman (IP) padi hingga 2–3 kali panen dalam setahun.

Secara keseluruhan, sistem pasokan air dan pembagian yang dikelola oleh Bendung Cibeet dan jaringan Tarum Barat terintegrasi mengaliri sekitar 7.500–7.800 hektar lahan pertanian yang terbentang di kabupaten Karawang sampai perbatasan Kabupaten Bekasi.

Kondisi Cibeet Saat Ini Sangat Memperihatinkan

Kondisi Sungai Cikereteg  Saat Ini (04/09/2026)

Tapi di era industri kini, Cibeet mengalami metamorfosis, deretan kawasan dan zona industri (area pabrik yang berdampingan dengan pemukiman), merubah wajah ketiga desa: Desa Wanajaya (di selatan berbatasan dengan Kecamatan Pangkalan), Wanakerta (tengah) dan Wanasari (di utara), yang memanfaatkan sumber air dari sungai Cibeet kini bersaing dengan beberapa pabrik yang berada di zona industri, pemanfaatan sungai Cibeet kini menjadi krodit. Sungai mulai tercemari muatan limbah produksi (cair + padat) juga sampah rumah tangga, khususnya limbah yang mengalir dari selatan menuruni aliran sungai Cikereteg yang berada di Kampung Kereteg, Desa Taman Mekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, berasal dari luapan lagoon pabrik kertas PT Pindo Deli Pulp and Paper mills 3. Pencemaran air yang terjadi di area Pindo 3 sebagai sisa produksi kertas cokelat (brown paper).

FOTO Muara Sungai Cikereteg yang mengaliri Sungai Cibeet

Produksi kertas cokelat ini biasanya memakai bahan baku kertas bekas lewat proses daur ulang (re-pulping), yang punya dampak lingkungan dan operasional spesifik, diantaranya; kawat pres, tali plastik, isolasi, dan label. Sisa limbah ini berbentuk pilinan tali rantai keras yang tergolong limbah padat non-B3 bervolume besar dan sulit diurai. Lalu lumpur halus (Sludge/Short Fibers) yakni serat selulosa yang terlalu pendek untuk terikat jadi kertas bakal terbuang ke sistem pengolahan limbah. Sludge kertas cokelat biasanya berwarna gelap dan pekat. Juga, proses penghancuran kertas daur ulang melarutkan pati (starch), zat pelekat (sizing agent), pewarna dan bahan kimia penguat kertas (wet strength resin). Ini sebabkan beban Chemical Oxygen Demand (COD) pada air limbah lebih tinggi dibandingkan produksi kertas putih biasa.

Lalu air sisa produksi kertas cokelat punya tingkat kekeruhan (turbidity) dan pewarnaan kecokelatan yang tinggi dari lignin terlarut serta pewarna kertas. Jika sistem IPAL kurang optimal, pembuangan air limbah ini dapat menguraikan oksigen terlarut (DO) di sungai dan memicu pendangkalan akibat endapan suspended solids (TSS).

Terakhir, bau menyengat (Odour Issues) lantaran kertas bekas yang disimpan basah atawa disirkulasi berulang kali dalam sistem close-loop water system rentan ditumbuhi bakteri anaerob. Bakteri ini menghasilkan gas berbau busuk, seperti asam-asam lemak volatil (VFA) dan H2S yang dapat terlepas ke udara sekitar area pabrik dan pemukiman warga.

Kemudian jika sisa reject serat dan sludge kertas dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar pendamping pada fluidized bed boiler, pembakaran limbah padat ini menghasilkan partikulat abu (fly ash dan bottom ash) yang memerlukan sistem penyaring debu (Electrostatic Precipitator / Baghouse Filter) biar enggak cemari udara. Tapi nyatanya, sungai Cikereteg yang langsung terdampak serupa comberan dan sudah jelas baunya bikin sesak dada. Ditambah polusi udara sisa pembakaran batubara (fly ash).

FOTO Sungai Cibeet di kampung Jatimulya, Desa Wanakerta

Lalu bagaimana nasib sungai di hilir, ada sungai Cibeet yang ditunggangi aliran sungai Cikereteg, yanh airnya dipakai untuk kepentingan hajat hidup warga di tiga Desa itu ? (Jun Biull)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.