283 views

Mengapa Kotoran Burung Banyak Di Gedung DPRD Musirawas, Kemana Alokasi Anggaran Pemeliharaan ?

FOTO Keadaan Gedung DPRD Musirawas Tampak Banyak Kotoran Burung Di Lantai dan Di Tembok  (Selasa, 27/01/2026) 

MUSIRAWAS-LH: Kemegahan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Musi Rawas kini hanyalah fatamorgana yang menyembunyikan realitas menjijikkan di dalamnya. Bangunan yang seharusnya menjadi altar suci bagi aspirasi masyarakat, justru tampak lebih menyerupai gedung tua yang terabaikan dan beralih fungsi menjadi sarang kotoran burung. Situasi ini terpantau wartawan liputanhukum.com pada Selasa (27/01/2026).

Pantauan di lokasi menyuguhkan pemandangan yang mengoyak nalar sehat. Lantai, selasar, hingga area kerja yang dibiayai dari keringat rakyat, justru dipenuhi gundukan kotoran burung yang mengering. Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis kebersihan, melainkan sebuah tamparan keras terhadap martabat institusi yang terhormat.

Kondisi kumuh ini memicu kritik filosofis yang sangat tajam. Lingkungan kerja adalah ekstensi dari pola pikir penghuninya. Jika kotoran hewan dibiarkan merajai wilayah kerja harian mereka, publik patut merenungkan sebuah pertanyaan pahit: Jika ruang kerja fisik saja dibiarkan penuh kotoran, mungkinkah nurani dan pola pikir di dalamnya juga telah terkontaminasi oleh “kotoran” serupa?

Absennya upaya pembersihan mencerminkan adanya pengabaian sistematis. Sangat sulit dinalar bagaimana kebijakan yang bersih dan jernih bagi rakyat bisa lahir dari tempat kerja yang penuh limbah. Muncul dugaan kuat bahwa etos kerja di dalam gedung ini telah rusak sedemikian rupa, layaknya kotoran yang merusak estetika gedung tersebut. Jika menjaga kebersihan lantai saja gagal dilakukan, lantas bagaimana masyarakat bisa meyakini bahwa kerja mereka sehari-hari untuk rakyat tidak sama “kotornya” dengan kondisi lingkungan kantor mereka?

Ironi tidak berhenti pada masalah visual. Saat upaya konfirmasi dilakukan, aroma “lepas tanggung jawab” terasa lebih pekat daripada bau amonia di lantai. Sekretaris Dewan (Sekwan) hingga jajaran Kabag Umum tidak berada di tempat. Kursi-kursi empuk pejabat tampak kosong, meninggalkan gedung megah itu dalam dekapan kotoran burung dan debu ketidakpedulian.

Publik kini bertanya: ke mana mengalirnya anggaran pemeliharaan gedung yang setiap tahun dialokasikan? Mengapa rumah rakyat ini dibiarkan membusuk dari dalam? Pengabaian ini adalah bukti nyata betapa rendahnya rasa hormat para birokrat dan pejabat terhadap fasilitas negara yang dititipkan rakyat kepada mereka.

Berbagai pihak telah menyurahkan rasa tanyanya atas kondisi yang memprihatinkan ini. ” Kami sebagai warga sekitar sini yang tiap hari lewat sangat prihatin melihat kondisi ini. Gedung mewah kok berubah jadi kayak sarang hantu ” pungkas salah satu warga sekitar yang tidak mau menyebut namanya (Selasa, 27/01/2016).

Ketika hal ini hendak dikonfirmasi dan atau diklarifikasi, sayangnya tidak ada satu pun pejabat yang berwenang ditempat yang punya kapasitas untuk memberikan jawaban.

Akhirnya, sampai berita ini ditayang belum ada satu pejabat terkait pun yang bisa dikonfirmasi terkait temuan ini. (Abdi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.