JAKARTA-LH: Konsultan Kemendikbud Era Nadiem Makarim bernama Ibrahim Arief dijemput paksa oleh Penyidik dari Kejaksaan Agung (Kejagung) RI terkait dugaan Kasus Korupsi Program Digitalisasi Pendidikan pada hari ini (Selasa, 15/07/2025).
Ibrahim tiba di Gedung Bundar Kejagung Pukul 14.35 WIB dengan menggunakan baju hitam. Tampak dirinya digiring penyidik Pidsus Kejagung memasuki Gedung Bundar Kejagung.
Terkait penjemputan paksa ini, kuasa hukumnya Indra Haposan Sihombing membenarkannya. Upaya jemput paksa ini dilakukan penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus. ” Iya benar dijemput (paksa) ” pungkas Haposan (15/07/2025).
Pada hari yang sama (Selasa, 15/07/2025), penyidik juga tengah memeriksa Nadiem untuk yang kedua kalinya di kasus tersebut. Tampak, Nadiem tiba di Gedung Bundar Kejagung sekitar pukul 08.58 WIB, didampingi kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea.
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar menyebut salah satu materi yang didalami penyidik berkaitan dengan hasil penggeledahan di Kantor GoTo pada Selasa (08/07/2025) pekan lalu. Dalam penggeledahan itu, penyidik turut menyita sejumlah barang bukti. ” Semua materi terkait apa yang sudah diperoleh penyidik selama ini baik berdasarkan dokumen, berdasarkan hasil penggeledahan dan penyitaan, maupun dari barang bukti elektronik ” ujar Harli kepada wartawan (Senin, 14/07/2025).
” Semua itu akan menjadi bahan konfirmasi, bahan pemeriksaan kepada yang bersangkutan bahkan kepada pihak manapun misalnya jika itu terkait dengan perannya ” tambah Harli.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam kasus ini, Kejagung tengah mengusut dugaan korupsi Program Digitalisasi Pendidikan berupa pengadaan Laptop Chromebook di Kemendikbudristek periode 2019-2022.
Harli menyebut dalam kasus ini penyidik menemukan indikasi adanya pemufakatan jahat melalui pengarahan khusus agar tim teknis membuat kajian pengadaan alat TIK berupa laptop dengan dalih teknologi pendidikan.
Modusnya, dibuat skenario seolah-olah dibutuhkan penggunaan laptop dengan basis sistem Chrome yakni Chromebook. Padahal hasil uji coba yang dilakukan pada tahun 2019 telah menunjukkan bahwa penggunaan 1.000 unit Chromebook tidak efektif untuk sarana pembelajaran.
Program ini sudah berjalan ke seluruh penjuru tanah air. Beberapa guru pengguna Laptop Chromebook ini umumnya mengeluh tentang kualitasnya. (Dessy)
