PEKALONGAN, liputanhukum.com:
Perihal sampah tak cukup diselesaikan dengan mengumpulkan, memindah atau membuangnya. Pada tumpukan sampah, ada persoalan kesadaran masyarakat, tanggung jawab hingga tata kelola lingkungan yang membutuhkan keterlibatan bersama.
Berangkat dari kegelisahan itu komunitas Teater Reakses menampilkan “Sampah Bertutur”: Teater Instalasi Rupa Sampah, satu karya seni yang padukan teater dengan instalasi seni rupa berbahan sampah, dan diskusi sebagai medium kritik sosial sekaligus kampanye lingkungan. Digelar di Taman Kota Comal Pemalang pada Jumat (23/10/2026).
Pementasan ini dilatarbelakangi kondisi darurat sampah yang jadi persoalan serius di sejumlah wilayah Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan, hingga berdampak pada kebersihan lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan hidup masyarakat. Pada saat yang sama, pengelolaan sampah juga menuntut transparansi, akuntabilitas, juga partisipasi masyarakat untuk mencari solusi.
Foto Teater
Melalui pendekatan artistik, “Sampah Bertutur” ajak penonton melihat sampah bukan sebatas material sisa yang tak berguna tetapi sebagai benda yang menyimpan jejak perilaku manusia dan persoalan lingkungan yang urung kelar. Sampah-sampah dihadirkan seakan punya suara, kesaksian, dan gugatan pada manusia.
Sutradara Ahmad Bukhori, membeber bahwa perpaduan teater dan instalasi seni rupa berbahan sampah merupakan upaya menyampaikan persoalan lingkungan melalui pendekatan yang dekat dengan pengalaman penonton, terutama generasi muda.
“Material yang selama ini dianggap tidak bernilai kami olah jadi bagian ekspresi artistik ” pungkas Ahmad Bukhori.
Melalui pertunjukan tersebut, sutradara ajak audiens pertanyakan cara masyarakat perlakukan sampah dan lingkungan.
Dalam karya tersebut, instalasi dengan bahan sampah tidak sekadar jadi seting panggung. Material sampah jadi bagian penting dari bahasa visual pertunjukan, yang pertemukan ekspresi tubuh, ruang, benda, dan kritik sosial dalam satu kesatuan artistik.
Muhammad Ma’ruf Hidayat Sulthon, Pimpinan Produksi pementasan menambahi bahwa ” Sampah Bertutur, dirancang tidak berhenti pada pementasan. Kegiatan ini juga sebagai upaya memperluas ruang pertemuan antara seni, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk angkat persoalan lingkungan ” tandasnya.
Penulis Naskah, Abror Y. Prabowo, mengembangkan “Sampah Bertutur” berdasarkan riset persoalan lingkungan dan sampah di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan, meneruskannya dengan bahasa dramatik dipoles kritik sosial dan satire. Dan Nur Aya’ Rozak sebagai aktor utama, membawakannya dengan penuh seluruh: ekspresi tubuh menjadi strategi artistik untuk pertemukan persoalan lingkungan dengan pengalaman penonton.
Pementasan Perdana tersebut ditonton sekitar 300-an audiens, berlokasi di Taman Kota Comal pada 23/10/2026, yang bakal digelar kembali di GOR UNIKAL, Kota Pekalongan pada Sabtu yang akan datang (31/10/2026).
Antusiasme audiens tunjukkan adanya ruang bagi seni pertunjukan guna ambil bagian dalam penyampaian isu-isu publik, termasuk persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan masyarakat luas, dengan diskusi hadirkan Narasumber Suyatmin Widodo, pengamat lingkungan, DS. Priyadi, Seniman dan Budayawan.
Pementasan ini merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam lingkup program pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan 2025, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana 2025. (Jun Biull)
