
YOGYAKARTA, liputanhukum.com:
Mahapala UMBY (Universitas Mercu Buana Yogyakarta) bersama Family Merdeka dan KNVS, gabungan komunitas Seni dan komunitas berbasis Psikologi dan Lingkungan menggelar serangkaian even dengan tajuk “Selasa Merdeka” di markas KNVS Yogyakarta, sebuah ruang berkesenian yang berlokasi di Sanggrahan IX, RT 04/RW 19, Sidomoyo, Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Selasa (27/10/2026).
Acara ini terselenggara sebagai wujud semangat merdeka berekspresi dan berbagi ruang seni.
Kegiatan yang terbilang langka ini, terbagi dalam dua sesi: Sore, pukul 16.00–18.00 WIB, menampilkan lokakarya Belajar Seni Cukil Kayu (Woodcut) dimana peserta diajak mengenali dasar teknik cukil kayu dan berkreasi cetak sederhana. Tidak diperlukan pengalaman sebelumnya — audiens bebas berpartisipasi dan boleh membawa pulang hasil karya sendiri.
Sesi malam, pukul 19.00–21.00 WIB, “Nobar” Nonton Bareng dan Diskusi Film bertema Lingkungan, sebuah film Dokumenter bertema “Semesta” karya Chairun Nissa.
Seusai pemutaran film, audiens dipersilakan bertukar pandangan dan berbagi cerita. Selain itu, tersedia Lelang Karya sebagai bagian dari rangkaian kegiatan untuk mendukung kreasi seniman lokal.
“Selasa Merdeka bukan sekadar acara seni, tetapi ruang pertemuan yang merakyat — tempat belajar tanpa syarat, menonton dan berdiskusi secara setara,” ujar ‘Itong’ Caulis Santosa Susanto, koordinator acara.
Demi menjaga kebersihan lingkungan di area acara, pengunjung disarankan membawa tumbler dan tas plastik sendiri.
Sekilas Sejarah Seni Cukil Kayu
Seni Cukil Kayu Di Yogyakarta (28/10/2026)
Sejarah Seni Cukil Kayu (Woodcut) di Indonesia singkatnya ada 3 gelombang:
1. Akar Tradisional, jauh sebelum disebut woodcut
Sesungguhnya, nenek moyang kita sudah mengenal cukil kayu dari dulu. Bisa dilihat dari Batik Cap, teknik cukil kayu buat nyetak motif. Lalu ada Wayang Gedog atawa Wayang Beber, stempel, dan ukiran kayu Jepara. Tetapi belum dianggap seni grafis modern, masih disebut kerajinan.
2. Masuknya Woodcut Modern Tahun 1920-1940, Era Belanda Dan Jepang
Dibawa seniman Belanda di Batavia Kunstkring. Mereka mengajarkan teknik cetak tinggi. Puncaknya di zaman Jepang 1942-1945. Jepang itu dewa-nya woodcut (Mokuhanga). Propaganda Jepang butuh poster cepat dan murah, mereka mengajari pemuda Indonesia seni cukil kayu. Dari situ lahir seniman angkatan pertama: Abdul Salam, Suromo
3. Zaman Emas, Revolusi Dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) 1945-1965
Ini masa paling penting. Di era revolusi fisik, kertas dan cat susah. Woodcut jadi senjata, selain biaya murah, bisa dicetak berulang-ulang, bisa untuk poster perjuangan, selebaran bawah tanah, serta dibawa keliling kampung. Tokoh-tokohnya diantaranya; seniman PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) pada 1938, dimotori oleh S. Sudjojono, Agus Djaya. Kemudian, LEKRA dan Bumi Tarung, penggiatnya yakni, Djajengasmoro, Suromo, Abdul Salam, Hendra Gunawan. Tema-tema karya seni cukil kayu mereka rakyat miskin, petani, buruh. Gaya hitam-putih kontras, ekspresif. Studio mereka di Bandung dan ASRI Yogyakarta jadi pusatnya.
4. Era 1970-an hingga Sekarang, Seni Grafis Akademik
Seni Cukil Kayu masuk kurikulum di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) sekarang ISI Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Seni Rupa dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebagai Seni Grafis.
Di era tahin 2000-an Seni Cukil Kayu bangkit lagi secara kolektif, seperti kelompok Seni Rupa Taring Padi, Mes 56 Jogja, Krack! Print Studio di Sukoharjo, mereka membuat Woodcut sebagai poster demo, zine, cover kaset indie lable.
Ciri khas woodcut Indonesia beda sama Jepang atawa Eropa: Tema kerakyatan, sosial dengan cat / warna kontras hitam-putih tajam, tak banyak gradasi. Dan berbahan kayu sengon, kayu jati lunak, atau sekarang pakai triplek, hardboard (MDF).
Di Indonesia, Seni Cukil Kayu atawa Woodcut bukan cuma teknik seni, tapi sebagai alat perjuangan. Makanya hingga kini Woodcut masih identik dengan seni perlawanan atawa street art.
Dan, acara “Selasa Merdeka” cukup meriah, antusiasme pengunjung — selain warga setempat juga hadir kalangan mahasiswa Peduli Lingkungan dan beberapa penggiat seni dan lingkungan — memberi enerji pada ruang seni KNVS Yogyakarta. (Jun Biull)
