137 views

Krisis Air Bersih Bikin Warga Jatimulya Karawang Patungan Untuk Sedot Air “Genangan” Irigasi

FOTO: Aliran Irigasi Kaligandu (anak sungai Cibeet – saluran sekunder). Pintu air menuju sungai Jatimulya dan FOTO Aliran sungai Jatimulya (anak sungai Cibeet – saluran tersier), tampak hijau dan berminyak

KARAWANG, liputanhukum.com: Warga Jatimulya, khususnya wilayah RT 08, desa Wanakerta (di sisi Selatan) yang berbatasan langsung dengan desa Wanajaya, Telukjambe Barat, Karawang, dengan segala keterbatasannya berinisiatif “udunan”, patungan sukarela (antara 10 – 20 ribu) untuk membeli bensin dan menghidupkan pompa air alirkan air irigasi (anak sungai Cibeet, saluran Sekunder Kaligandu) lantaran sungai Jatimulya (anak sungai Cibeet, saluran Tersier) mengering, juga beberapa sumur warga alami hal serupa. —Kalau pun sumur berair tetapi airnya berwarna kuning dan berbau bahkan nyaris payau.

Inisiatif warga wilayah RT 08 tersebut sebagai siasat melawan musim kemarau yang sebabkan sungai dan sumur mengering. Dengan berkala, sekitar seminggu sekali, beberapa kepala keluarga (KK) patungan untuk menyedot air irigasi biar bisa menyimpan air di sungai “susukan” Jatimulya yang mengering, walau terbatas, setidaknya warga punya simpanan air sebagai stok kebutuhan MCK untuk beberapa hari ke depan. Kendati di hari berikutnya, “genangan” air susukan berubah jadi payau.

Sikap Pemerintah

Ini bukan karena Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang tidak memasok air ke wilayah tersebut, tapi kedatangan pasokan air dengan 2 tangki per minggu—atau “Tergantung permintaan warga,” Kata Ketua RT 08. (per tangki capai kapasitas 3000 liter), tidak mencukupi kebutuhan air warga, sisi lain warga terbatas miliki penampung atawa wadah untuk menyimpan stok air (?)

” Dari BPBD Karawang sendiri tangki kapasitas 3000 liter, sedang dari PMI 5000 liter dan pernah ada bantuan dari Ibu Kapolsek Telukjambe Barat (Iptu Herawati, SH MM) itu capai 8000 liter. Dan itu pun harus pakai Surat Permohonan, kecuali tangki air sumbangan Ibu Kapolsek kemarin ” kata Indri Kartika PSM desa Wanakerta (17/10/2026).

Pemprov Jawa Barat pernah nyatakan Darurat Kekeringan, BMKG mencatat 66% wilayah Jabar kemarau lebih awal, panjang dan ekstrem. Karawang dan Bekasi jadi wilayah pertama yang kena dampak sejak Maret–April lalu.

Gubernur lewat BPBD Jabar fokusnya bukan melulu salahkan El Nino, tapi akui ini krisis kebutuhan dasar. Sampai per Oktober 2026, BPBD catat 27,63 juta liter air bersih sudah disalurkan se-Jabar. Melansir IDN Times, (15/10/2026), BPBD Jabar mencatat ada 1.294.655 jiwa terdampak kekeringan hingga 13/10/2026.

Pemkab Karawang sampai per Oktober 2026 sudah salurkan 1,5 juta liter air bersih lewat BPBD dan Perumda Tirta Tarum plus CSR (Corporate Social Responsibility) kawasan industri. Sebagai tindakan jangka pendek (darurat), droping air tangki dengan berkoordinasi ke BPBD Karawang, dan itu bersifat gratis.

Sungai Cibeet dan Permasalahan  Limbah Industri

FOTO: Jamban warga Jatimulya RT 08, aliran sungai Jatimulya (anak sungai Cibeet – saluran tersier), tampak kering dan payau

Tetapi apa yang terjadi dengan sumber air warga di ketiga desa: Wanajaya, Wanakerta, Wanasari, di mana sungai Cibeet setiap tahunnya terjadi pendangkalan, sehingga daya tampung air jadi minim, terlebih di musim kemarau? Apakah terjadi sedimentasi lantaran di sebelah selatan terdapat dua industri besar yang diduga kebocoran IPAL atau dengan sengaja membuang limbah ke sungai Cikereteg yang mengalir dan bermuara di arus Cibeet yang berlokasi di dusun Karadak desa Wanajaya?

Melansir Pikiran Rakyat, (9/5/2019).
Di Pindo Deli (3) pencemaran kerap dipicu lantaran luapan bak penampungan (lagoon) limbah cair karena pompa macet atawa kapasitas IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang tak sebanding dengan volume produksi. Unit ini pernah mendapat sanksi administratif berat lantaran kedapatan melakukan uji coba produksi dan menghasilkan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) saat dokumen AMDAL, Izin Lingkungan dan Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) dari instansi terkait, belum kelar diverifikasi secara legal.

Sedang pabrik baja PT Karawang Prima Sejahtera Steel (KPSS) yang berlokasi di dusun Karadak desa Wanajaya, Telukjambe Barat berbatasan dengan dusun Kereteg desa Tamanmekar kecamatan Pangkalan (utara pabrik kertas Pindo Deli 3), punya Karakteristik limbah cair/padat atawa B3—bahkan dulu adanya hasil pembakaran limbah batu bara (bottom ash dan fly ash) —juga slag logam peleburan, mengandung logam/kromium tinggi akibat proses pembakaran. Proses pencemaran airnya dari penampungan limbah yang meluap terkikis air hujan serta longsoran material pabrik yang jatuh ke sungai Cikereteg, sementara di hilir, di tepian alirannya dimanfaatkan oleh waega ketiga Desa sebagai MCK bahkan ada satu pabrik yang menggunakannya sebagai Intake.

Warga Jatimulya wilayah RT 08 saat dimintai keterangan tentang air bersih di musim kemarau nan panjang ini, Sabtu (17/10/2026), serempak menyampaikan bahwa, ” Air bersih sumbangan pemerintah tak mesti datang seminggu sekali ” kata salah seorang warga yang tak ingin disebut namanya (17/10/2026).

” Kalau pemerintah tidak menyumbang air tidak ada-apa asalkan bisa mandi di Cibeet kayak dulu ” ujar salah satu warga lainnya.

” Tapi kalau Cibeetnya sudah jadi comberan, gimana bisa dipakai mandi? ” ungkap warga yang lain.

” Kalaupun ada sumur umum (PDAM swadaya-red), sumbangan dari Pindo Deli (3) itu tidak memadai, selain iuran bulanannya mahal, air datang ke rumah tidak normal, mungkin karena ada beberapa warga memakainya buat kebutuhan kontrakan (kos-kosan) dan menyiram kebun (palawija) ” ujar warga yang lain lagi.

Lalu apa sikap Pemerintah mengenai permasalahan yang tak kunjung kelar ini?

Meskipun pengerukan atau normalisasi sesekali dilakukan, efektivitasnya kerap tak berumur panjang. Jika sumber masalah di hulu dan tengah—seperti sedimen lumpur sisa limbah pabrik, seperti endapan dari koridor industri sungai Cikereteg, membawa limbah PT Pindo Deli dan PT KPSS serta minimnya ketegasan penegakan hukum terhadap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri—tidak diselesaikan dengan tuntas, maka pendangkalan dan pencemaran (termasuk air payau— beracun) bakal kembali terjadi dalam waktu singkat. Sementara, kemarau panjang masih melanda warga, dan air bersih minim didapat. (Jun Biull)

*Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.