62 views

WASPADA, Erupsi Terus Menerus  dan Fenomena Air Mancur Lava Dari Gunung Anak Krakatau Di Selat Sunda

VIDEO AMATIR yang didapatkan dari Nelayan Di Selat Sunda  

LIPUTANHUKUM.COM: Sejak Jum’at Malam (04/09/2026), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus yang disertai fenomena air mancur lava (lava fountain). Tampak semburan lava fountain atau air mancur lava pijar dengan ketinggian mencapai sekitar 400 meter yang diiringi suara gemuruh.

Situasi ini diharapkan seluruh warga masyarakat khususnya disekitar pesisir pantai Banten dan Lampung untuk meningkatkan kewaspadaannya. Terlebih-lebih lagi, debu vulkanik dari letusan ini terbawa angin dan mengarah serta mengotori wilayah sekitar seperti Lampung dan Banten.

Berdasarkan laporan Badan Geologi, status aktivitas berada pada Level III (Siaga). Untuk itu, dihimbau demi keselamatan masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga di sekitar pesisir Selat Sunda diminta untuk tetap tenang, waspada, serta memantau informasi resmi dari pihak berwenang.

Terkait situasi ini, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyebutkan adanya suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung, diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Krakatau yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, berlangsung pada waktu yang sama (23.07-04.40 WIB). ” Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama ” pungkas Lana di Bandung (Sabtu, 05/09/2026).

Menurut Lana, meski jaraknya jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara dentuman terdengar hingga Bandung Raya, bisa disebabkan ekspansi cepat pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava dengan kecepatan tinggi pada konduit (lubang kepundan). ” Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas ” tandasnya.

Gelombang suara/ tekanan udara frekuensi rendah dapat merambat ratusan kilometer melalui atmosfer. Lapisan atmosfer dan angin dapat membelokkan suara, perubahan suhu, tekanan, dan angin di ketinggian bisa membiaskan(membengkokkan) jalur suara kembali ke permukaan. ” Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar ” lanjutnya.

Lebih lanjut, Lana mengungkapkan berdasarkan pemantauan PVMBG, erupsi di waktu tersebut, disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten. (Kan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.