TUAN SYEKH KHALIFAH (Kh) USIN ZAKIAMAN HASIBUAN ‘selanjutnya dalam tulisan ini kami singkat Tuan Kh Usin’ dilahirkan di Sitimbor, yang setelah Indonesia Merdeka masuk wilayah Desa Sibito Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhanbatu Utara (Saat ini) Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1899 M jauh sebelum Indonesia merdeka.
Ayahnya bernama Jaripatan Hasibuan (Raja Jaripatan) dan Ibunya Bernama Londut Boru Munthe. Tuan Kh Usin bersaudara sebanyak 14 orang terdiri dari 9 orang laki laki 5 orang Perempuan.
Secara postur, Tuan Kh Usin berperawakan sedang berparas sederhana kulitnya putih kuning air mukanya bersih menarik hati setiap orang yang melihatnya. Apabila berjalan kepalanya selalu tertunduk hidupnya sederhana pakaiannya sering berwarna putih dan berahlak baik. Selain itu, beliau terkenal dengan ketekunannya beribadah serta taat mengerjakan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Tegas dan adil menjalankan hukum, jujur, pemurah, bergaul baik dengan anak dan istri. Semua itu merupakan ciri khas kepribadian Tuan Kh Usin.
Masa Masuk Sekolah
Setelah berumur 10 tahun, Kh Usin memasuki sekolah pesantren di Sitarundi Desa Simonis (saat ini). Sayang tidak sempat tamat lalu beliau memasuki pengajian Al-Qur’anul Karim kepada Guru Malim Maulana di Sitimbor hingga tamat.
Menikah Dengan Jamina Boru Munthe
Kemudian setelah berumur 17 tahun beliau menikah dengan Jamina Boru Munthe Binti Zalenggang dari Poldung Jae. Kemudian, pada waktu itu pula beliau memasuki pengajian Kitab Jami’ di Bandar Durian Kecamatan Aek Natas (setelah merdeka) kepada Tuan H Jaluddin.
Masa Menuntut Ilmu Lanjutan dan Memimpin Pengajian
Saat menuntut ilmu Kitab Jam’i itu, mulai lah KH Usin memimpin pengajian Al-qur’an dengan jumlah murid mencapai ratusan orang di Sitimbor. Dan disaat itu pula, Kh Usin mulai mengembangkan dakwah dan pengajian. Beliau mulai mendirikan rumah ibadah di beberapa tempat seperti di Sitimbor, Aek Gambir, Poldung Jae, Pijor, Andor Soit, Parbatua, Sibito, Batu Sandar, Napa Julu, Huta Raja, Bahkan Sampai ke Pagar Gunung Tapanuli Utara.
Berangkat Suluk Pertama Menemui Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan Di Basilam Langkat
Selanjutnya, Kh Usin pun mengambil langkah untuk merencanakan berangkat ke Babussalam Langkat (Kampung Basilam) untuk menemui Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan.
Alhamdulillah, rencana tersebut dapat terkabul maka dengan niat yang tulus dan ikhlas serta semangat yang tinggi Kh Usin pun berangkat dengan orang tuanya sendiri yang bernama Jaripatan Hasibuan.
Mulai berangkat dari Sitimbór sampai ke Basilam ditempuh dengan berjalan kaki. Maklumlah karena pada waktu itu ekonomi sangat lemah tidak punya duit. ” Namun Tuan Guru kita (KH Usin) tidak terpengaruh dengan kondisi ekonomi. Beliau dengan Istiqomah berangkat untuk menemui Tuan Guru kita ke Basilam. Setelah beliau sampai di Basilam beliau langsung menerima Tarikot Naqsabandiyah dari Tuan Guru kita Syeikh Abdul Wahab Rokan Basilam dan terus bersuluk selama 40 hari ” papar salah satu khalifah dari penerus KH Usin pada waktu HUL di Aek Marbatu Hulu (07/06/2025).
Usai suluk 40 hari, Kh Usin kembali pulang ke Sitimbor bersama ayahnya Jaripatan Hasibuan.
Menurut kisahnya, Tuan Kh Usin memakan waktu 3 bulan sejak berangkat ke Basilam hinggal kembali ke Sitimbor.
Kemudian hari demi hari bulan demi bulan bahkan berganti tahun, Tuan Kh Usin semakin sering memasuki suluk ke Basilam hingga pada akhirnya ‘kajinya’ ampai ke tingkat Tahalel. Tahalel merupakan satu level tingkatan terakhir pada ilmu kajian sukuk dalam Tareqoh Naqsabandiyah.
Perjalanan Spritual Tareqah Naqsabandiyah Hingga Sampai Jenjang Tahalel dan Dinobatkan Menjadi Khalifah
Dalam perjalanan spritual Tareqah Naqsabandiyah, Tuan Kh Usin dibimbing senior dan sekaligus mursidnya yakni Tuan Syekh Khalifah Abdul Rojab dari Babussalam Marbau. Makanya, Tuan KH Usin dinobatkan dan mendapat gelar Khalifah dari Tuan Syekh Khalifah Abdul Rojab yang diberi nama Khalifah Usin Zakiaman.
Mulai Memimpin Suluk Ke Berbagai Daerah dan Melakukan Hijrah
Setelah resmi mendapat gelar Khalifah, Tuan Kh Usin akhirnya mulailah memimpin suluk serta mengembangkan Tarekat Naqsabandiayah ke berbagai tempat.
Untuk langkah pertama beliau membuka suluk di Sitimbor selama 10 hari, kemudian demi mengembangkan dakwahnya Syariat atau Tareqah Islamiyah ini, beliau pun pindah ke Pagar Gunung untuk bermukim selama 2 tahun, kemudian pindah lagi ke Balimbing 1 tahun, pindah lagi ke Tolang selama 4 tahun sesudah itu baru pindah Ke Lobu Nagodang (Desa Sibito saat ini) selama 4 tahun.
Selanjutnya, KH Usin pindah lagi ke Padang Nabidang Desa Kampung Pajak (Saat ini Desa Bangun Rejo). Di sana juga beliau mendirikan Masjid dan shalat berjamaah tapi tidak sempat mendirikan Suluk.
Ada pun maksud perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain adalah untuk mengembangkan siar Islamiyah dan Tareqah Naqsabandiyah di tengah-tengah Masyarakat secara merata.
Pindah Ke Aek Marbatu Julu dan Membangunkan Rumah Suluk serta Mandorsah dan Menetap Disini Hingga Akhir Hayatnya
Akhirnya, Kh Usin pindah ke Aek Marbatu Julu pada tahun 1952 Masehi. Tahun itu pula beliau mendirikan rumah ibadah darurat yang menjadi cikal bakal rumah suluk dan Masjid yang masih ada sampai saat ini.
” Didirikanlah Masjid kita yang sekarang ini dengan dilengkapi Panitia Pembangunan sebagai ketua langsung oleh beliau Sekretaris Nurdin Hasibuan (Alm) dan Bendahara oleh Tuan Guru Kita Kh Tamba Soleh Hasibuan Almarhum (merupakan anak kandung dari Tuan Kh Usin), kemudian oleh panitia tersebut mengajukan Permohonan bantuan kepada bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat Dua Labuhanbatu yang pada waktu itu dijabat oleh Idris Hasibuan. Dengan surat rekomendasi yang diperoleh dari Bupati, maka panitia pembangunan Persulukan dapat menjalankan Dorma Wakaf untuk seluruh daerah di Provinsi Sumatera Utara.
Hasil yang diperoleh dari Dorma Wakaf itu, akhirnya dibelanjakan untuk membangun Rumah Sukuk dan Mandorsah (Masjid). Mulai dari beli genteng dan bahan bangunan lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Rumah Suluk dan Mandorsah Aek Marbatu Julu akhirnya selesai dan dapat digunakan untuk menjadi tempat beribadah baru seluruh lapisan masyarakat pada umumnya dan para jamaah suluk Tareqah Naqsabandiyah pada khususnya.
Sambil terus melakukan pembangunan Rumah Suluk dan Mandorsah, Suluk Panjang terus di lakukan di Aek Marbatu Julu. Para Jamaah dan Anak Suluk silih berganti untuk menjalankan Suluk Panjang. Keputusan akan Suluk Panjang yang tak boleh terputus ini, ditetapkan sejak tahun 1958 tepatnya pada Bulan Zulhijjah H.
Tuan Syekh Kh Usin Zakiaman Hasibuan Wafat
Setelah Rumah Suluk dan Mandosyah dapat diooerasikan, Suluk Panjang sudah ditetapkan dan dilaksanakan, tiba-tiba kondisi kesehatan Tuan Kh Usin memburuk.
Setelah 14 hari sakit dan kondisinya semakin melemah, akhirnya tepat Hari Rabu (29/02/1963) berkisar Pukul 14:30 WIB bertepatan pada Tanggal 23 Merempak 1361 Hijriyah, Tuan Guru Khalifah Usin Zakiaman kembali ke haribaan ilahi Allah SWT.
Kh Usin tutup usia pada umur 85 tahun dengan meninggalkan Seorang Istri, 5 orang anak diantaranya 3 laki-laki, 2 orang Perempuan. Saat tutup usia, tercatat Anak Hhalifahnya berjumlah 29 orang dengan ratusan anak Suluk (Jamaahnya).
Kh Tamba Soleh Hasibuan Menjadi Tuan Guru Aek Marbatu Julu Menggantikan Kh Usin
Sebelum di berangkatkan ke tempat terakhirnya, atas musyawarah bersama antara Jamaah dan Para Ahli Waris, maka ditetapkan (ditabalkan) Putra Kedua yakni Kh Tamba Soleh Hasibuan dinobatkan menjadi penggantinya sebagai Tuan Guru Persulukan Aek Marbatu Julu.
Riwayat Ringkas Kh Tamba Soleh Hasibuan
Tuan Syekh Khalifah Tamba Soleh Hasibuan yang selanjutnya kami tulis Kh Tamba merupakan anak kedua (laki-laki) dari Tuan Syekh Khalifah Usin Zakiaman dari hasil perkawinannya dengan Jamina Br. Munthe. Kh Tamba lahir di Sitimbor pada Senin 4 Muharram Tahun 1926 M.
Pada tahun 1933 sekolah dasar di Bandar Durian hingga tamat. Selain pendidikan formal, Tuan Kh Tamba juga pernah mengaji Al- Qur’an kepada Lobe Kalamer Munthe di Jaogar kira kira tahun 1930. Kemudian setelah tamat mengaji lantas menjadi guru mengaji di Aek Marbatu.
Selain menimba ilmu di tempat lain, Kh Tamba terus diawasi dan dibimbing ayahandanya yakni Tuan Kh Usin.
Pada usia 25 tahun, Kh Tamba menikah dengan Sakkotan Boru Aritonang binti Lobe Aritonang. Setelah menikah, Kh Tamba digojlok oleh ayahandanya Tuan Kh Usin untuk terus memperdalam ilmu Tariqah Naqsabandiyah dan ilmu agama Islam lainnya.
Tiga tahun setelah mengikuti Suluk, Kh Tamba diangkat menjadi Khalifah dengan gelar Khalifah Tamba Soleh. Baru berusia 31 tahun, Ayahandanya yakni Kh Usin meninggal dunia (29/02/1963). Akhirnya Kh Tamba Soleh dinobatkan sebagai pengganti ayahandanya menjadi Tuan Guru Aek Marbatu Julu.
Dalam perjalan hidupnya, setelah dinobatkan menjadi pengganti ayahandanya, Kh Tamba pernah mengalami sakit selama 4 tahun. Namun terkait Persulukan tetap dijalankan tanpa putus Suluk panjang. Semua ini berkat kerja sama dan topangan dari para jamaah dan sanak keluarga.
Sesudah kembali sehat, Kh Tamba kembali bangkit dan melakukan pengembangan Suluk Tareqah Naqsabandiyah ke berbagai tempat sebagai bentuk perjuangan lanjutan yang dilakukan Tuan Guru sebelumnya yang juga sebagai ayahandanya yakni Tuan Kh Usin Zakiaman. Berbagai daerah didatangi untuk melakukan Persulukan.
Kh Tamba membuka suluk di Pijor Desa Rombisan selama 10 hari. Kemudian di Ambasang, di Padang Lompong, Napa Julu, Batu Sandar, kemudian di Hasang Taput, Kampung Baru, Andor Soit, Hasang Damuli, Gunung Lonceng.
Suluk Terkahir Kh Tamba Menjelang Tutup Usia
Kh Tamba meninggal secara mendadak pada 04 Juli tahun 1990 M atau 11 Zulhijjah 1410 H Pukul 13.00 WIB bertepatan Buka Suluk Haji di 2 tempat yang langsung beliau pimpin yakni di Rumah Suluk Aek Marbatu Julu dan Simpang Sitarundi.
Kh Tamba wafat meninggal 1 orang istri, 2 saudara kandung, ratusan Jamaah dan 46 orang Anak Khalifah.
Dalam Suluk terakhir yang langsung dipimpinnya, Kh Tamba mendapat Jamah 199 orang dengan rincian 86 orang Di simpang Sitarundi dan 113 orang di Aek Marbatu. Dari total itu, 27 orang dari anak Suluk mendapat gelar khalifah termasuk Khalifah Abdul Wahab yang akhirnya menggantikan Kh Tamba Soleh sebagai Tuan Guru Aek Marbatu.
Sesuai aturan dalam Tareqah Naqsabandiyah, sebelum Jenazah Tian Kh Tamba dimakamkan, harus sudah ada penggantinya sebagai penerus Tuan Guru bagi Persulukan dan Jamaah yang ditinggalkannya. Maka, sesuai hasil keputusan musyawarah yang dihadiri Ahli Waris dan Khalifah serta Jamaahnya, maka ditetapkan Khalufah Abdul Wahab Hasibuan sebagai penggantinya.
Kh Abdul Wahab Sebagai Tuan Guru Aek Marbatu Menggantikan Tuan Kh Tamba
Setelah Kh Tamba Wafat, maka ditetapkan penggantinya sebagai penerus Persulukan Aek Marbatu adalah Khalifah Abdul Wahab Hasibuan yang dalam tulisan ini kami sebut Kh Abdul Wahab.
Kh Abdul Wahab Hasibuan bin Khalifah Sulaiman Hasibuan merupakan Anak Khalifah dari Tuan Guru KH Tamba Soleh Hasibuan.
Selain sebagai Anak Khalifah, Kh Abdul Wahab Hasibuan juga merupakan Saudara Sepupu dari Kh Tamba Hasibuan. Ayahanda dari Kh Abdul Wahab Hasibuan yakni Kh Sulaiman Hasibuan merupakan Adik Kandung dari Kh Usin Zakiaman Hasibuan.
Makasih sesuai tradisi dalam Tareqah Naqsabandiyah, selain syarat sebagai Anak Khalifah dari Tuan Guru yang akan digantikan, maka harus terpenuhi juga syarat kewarisan.
Nah, mengingat Tuan Kh Tamba tidak memiliki anak, maka jatuhlah jabatan Tuan Guru itu ke Ahli Waris terdekat yang juga sekaligus merupakan Anak Khalifah yang akan digantikan.
Setelah berjuang meneruskan Persulukan Aek Marbatu selama 5,5 tahun, karena alasan ekonomi, akhirnya Khalifah Abdul Wahab kembali ke Andorsoit. Maka sebagai pelaksana di Rumah Suluk Aek Marbatu, ditunjuk lah Khalifah Abdul Halim Hasibuan.
Selanjutnya, dari tahun 1996 sampai tahun 2001 Khalifah Abdul Halim Hasibuan lah memimpin peribadahan ini.
Kemudian pada tahun 2001, Tuan Guru Khalifah Abdul Halim Hasibuan meninggal dunia. Maka Kembali lagi Tuan Guru Khalifah Abdul Wahab Hasibuan meneruskan peribadahan ini sampai pada tahun 2019.
Tuan Guru Kh Abdul Wahab Hasibuan Meninggal Dunia
Pada tahun 2019, tepatnya pada Senin tanggal 07 Januari 2019, Kh Abdul Wahab Hasibuan meninggal dunia akibat menderita sakit. Beliau meninggalkan seorang istri Rongga Boru Munthe dan 7 orang anak yang terdiri dari 3 laki-laki dan 4 perempuan dan dimakamkan di Tanah Pemakaman Persulukan Aek Marbatu Julu.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, Kh Abdul Wahab meninggalkan ratusan jemaah dan sekitar 35 orang Anak Khalifah termasuk diantaranya Khalifah Yahya yang konon menjadi penerusnya sebagai Tuan Guru Aek Marbatu.
Kh Yahya Hasibuan Dinobatkan Sebagai Pengganti Tuan Guru Aek Marbatu
Meninggalnya Tuan Guru Khalifah Abdul Wahab Hasibuan tentunya harus mempunyai pengganti dan Penerusnya.
Untuk itu, sesuai ketentuan dan hasil musyawarah mufakat terutama Jamaah, Anak Khalifah, dan Para Ahli Waris, sepakat menunjuk dan menetapkan Khalifah Yahya Hasibuan sebagai pengganti sekaligus penerus Persulukan Aek Marbatu Julu.
Khalifah Yahya Hasibuan merupakan adik kandung dari Tuan Syekh Khalifah Abdul Wahab Hasibuan. Selain sebagai adik kandung, Kh Yahya juga sebagai Anak Khalifah dari Tuan Guru Khalifah Abdul Wahab Hasibuan. Sampai saat tulisan ini dipublis maka yang menjadi Tuan Guru di Persulukan Aek Marbatu adalah Khalifah Yahya Hasibuan.
Sumber: Ahli Waris, Anak Khalifah dan Jamaah Tareqoh Naqsabandiyah Tuan Syekh Khalifah Usin Zakiaman Hasibuan pada HUL Persulukan Aek Marbatu Julu (2025)
