135 views

Banjir Bandang Terjang Tapteng dan Sibolga Membawa Korban Jiwa dan Harta Benda serta Jalan Lumpuh 

LIPUTANHUKUM.COM: Cuaca ekstrim, angin deras dan hujan lebat beberapa hari terakhir yang terus menerus mengguyur Sumatera Utara khususnya Tapanuli Tengah dan Sibolga (Sejak Senin Malam) telah menyebabkan bencana alam. Intensitas hujan yang tidak kunjung mereda selama berjam-jam menyebabkan beberapa sungai meluap dan tanah di kawasan perbukitan menjadi tidak stabil. Dalam waktu singkat, banjir bandang dan longsor melanda sejumlah titik vital di Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, memicu kepanikan serta kerusakan parah.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa bencana ini terjadi bersamaan dengan banjir dan longsor di beberapa kabupaten lain di Sumatera Utara, menjadikan situasi semakin rumit bagi tim penanganan darurat. Meski demikian, Sibolga dan Tapanuli Tengah menjadi dua wilayah dengan dampak paling besar, terutama karena permukiman padat dan jalur transportasi utama berada tepat di area rawan banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sibolga mengonfirmasi bahwa sedikitnya 5 orang meninggal dunia, sementara 4 warga lainnya dinyatakan hilang setelah terseret banjir bandang maupun tertimbun longsor. Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian, meski akses menuju sejumlah lokasi terhambat oleh material longsor.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, total korban jiwa di seluruh wilayah terdampak Sumatera Utara mencapai 10 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka atau harus dievakuasi karena rumah mereka rusak. Data tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring tim gabungan menyisir daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Ada 4 kecamatan di Sibolga yang terparah yakni  Sibolga Kota, Sambas, Sibolga Selatan, dan Sibolga Utara. Keempat kecamatan tersebut tergenang air setinggi 30 hingga 50 sentimeter. Di beberapa titik, aliran air bahkan mengalir deras membawa lumpur, batu, dan potongan kayu, menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga.

Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Tengah dampaknya tak kalah besar. Sebanyak 2.393 kepala keluarga terdampak banjir dan longsor, dengan ratusan rumah rusak berat hingga tidak bisa dihuni. Para warga terpaksa mengungsi ke fasilitas umum seperti sekolah dan balai desa, sementara sebagian lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman.

Para pengungsi, khususnya anak-anak dan lansia, membutuhkan bantuan mendesak berupa makanan siap saji, obat-obatan, selimut, serta akses air bersih. Pemerintah daerah dan relawan mulai mendistribusikan logistik, namun tantangan akses masih menjadi kendala utama.

Salah satu dampak paling serius dari bencana ini adalah lumpuhnya jaringan listrik dan telekomunikasi di Sibolga dan Tapteng. Beberapa gardu dan tiang listrik padam karena terendam air atau tertimbun longsoran, sehingga PLN memutuskan untuk mematikan aliran listrik demi keselamatan.

Kondisi tersebut membuat operator seluler tidak dapat mengoperasikan sebagian besar tower jaringan, mengakibatkan layanan telekomunikasi terputus total. Warga kehilangan akses untuk menghubungi keluarga, melaporkan kondisi darurat, atau mencari informasi terkini mengenai bencana.

Telkomsel dan beberapa operator lain menyampaikan permohonan maaf dan berjanji memulihkan layanan secepat mungkin. Namun mereka mengakui bahwa proses pemulihan akan membutuhkan waktu karena akses ke lokasi-lokasi infrastruktur jaringan masih tertutup atau terendam.

Pile-up material longsor menutup jalur utama yang menghubungkan Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Sejumlah kendaraan terjebak dan tidak dapat bergerak karena jalan terputus total. Tim penanganan darurat terpaksa mencari jalur alternatif, sementara alat berat dikerahkan untuk membersihkan material tanah dan batu.

Namun kondisi medan yang berbahaya membuat proses pembersihan berlangsung lambat. Hujan yang masih turun membuat risiko longsor susulan semakin besar, sehingga petugas harus bekerja ekstra hati-hati.

Pemerintah daerah bersama BPBD telah menetapkan status tanggap darurat. Tim gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan petugas kesehatan bekerja sepanjang waktu untuk melakukan evakuasi, penyelamatan, serta pendistribusian bantuan.

BNPB mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari mendatang. Karena itu, warga diimbau menjauhi bantaran sungai, lereng bukit, dan daerah yang menunjukkan tanda-tanda retakan tanah.

Bencana ini kembali menjadi pengingat betapa pentingnya mitigasi bencana di wilayah yang memiliki topografi kompleks seperti Sibolga dan Tapteng. Pemerintah setempat diminta memperkuat sistem peringatan dini dan menata ulang kawasan rawan bencana untuk mengurangi risiko serupa di masa depan.

Dengan ribuan warga masih membutuhkan bantuan dan puluhan desa terisolasi, Sibolga kini memasuki fase pemulihan yang panjang. Namun semangat gotong royong masyarakat dan kerja sama berbagai pihak menjadi fondasi penting untuk bangkit dari bencana besar ini. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.