505 views

Diduga Telah Terjadi Keterangan dan atau Kesaksian Palsu Dari Para Pelaku Pada Kasus OTT Perdagangan Kulit Harimau Di Medan

LABURA-LH: Pada Hari Jum’at (02/10/2020-Red) Sekitar Pukul 10.00 WIB telah terjadi Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Personel Kepolisian dari Polrestabes Medan di Salah Satu Rumah (Mess) yang terletak di Jl. Namo Pencawir, Desa Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang terhadap 5 Orang yang diduga akan melakukan Transaksi Kulit Harimau. Tanpa mendapat perlawanan, ke 5 Orang tersebut langsung diamankan dan dibawa ke Mapolrestabes Medan yang terletak di Jl HM Said No 1 Medan. Menurut informasi terakhir yang didapatkan, sebenarnya Rombongan yang dari Labura (Pembawa Barang Kulit Harimau) berjumlah 5 Orang, sehingga seharusnya Jumlah yang harus diamankan adalah sebanyak 6 Orang. Namun salah seorang berinisial DN yang berperan sebagai Supir sembunyi sehingga tidak ikut serta ditangkap. 

Adapun Identitas ke 5 Orang yang berhasil diamankan dalam OTT tersebut adalah RN alias Bornas (Wanita) berasal dari Kabupaten Labura, TP (Laki-Laki) berasal dari Kabupaten Labura, SG (Laki-Laki) berasal dari Kota Medan, RM (laki-laki) berasal dari Kabupaten Labura, dan Seorang Oknum Mahasiswa di salah satu PTN di Kota Medan berinisial DA (laki-laki) berasal dari Kabupaten Labura.

Setelah diperiksa secara intensif, Reskrim Polrestabes Medan menetapkan 3 Orang Tersangka yakni RN, TP, dan SG. RN langsung ditahan saat itu juga di Tahanan Mapolrestabes Medan. Adapun TP dan SG ditangguhkan penahanannya, sementara RM dan DA berstatus sebagai saksi. Demikian informasi yang didapatkan LH (liputanhukum.com) dari RM melalui Telepon Selularnya (Rabu, 02/12/2020-Red).

Sesudah berlangsung sekitar 2 Bulan (60 Hari), bersamaan dengan kasus ini dilimpahkan ke Kejari (P21) tepatnya Selasa (01/12/2020-Red) akhirnya TP dan SG langsung ditahan di Rutan Klas IIB Labuhan Deli yang terletak di Jl Titi Pahlawan, Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara. Sementara RN tetap ditahan di Mapolrestabes Medan dikarenakan tidak adanya Fasilitas Tahanan untuk Wanita di Rutan Klas IIB Labuhan Deli.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa dari 3 Tersangka hanya RN yang langsung ditahan sementara 2 Orang Tersangka lainnya yakni TP dan SG ditangguhkan padahal Satu SPK.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa RM dan DA serta DN tidak ikut menjadi Tersangka (hanya berstatus saksi) padahal ke 6 Orang ini merupakan sindikasi yang akan melakukan transaksi secara bersama-sama dengan Obyek Kulit Harimau yang merupakan Satwa yang dilindungi sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang sudah dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 Tentang Perburuan Satwa Buru.

Pertanyaan selanjutnya adalah darimana barang ini didapatkan Para Pelaku. Maksudnya, benarkah RN sebagai Pemilik utama sesuai keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di hadapan Penyidik Polrestabes Medan ? Ataukah masih ada Pemilik dan atau Pelaku Utama Pemburu Satwa yang dilindungi ini ? Terakhir, siapa Eksekutor Pemburu dan atau Pembunuh Hewan yang dilindungi itu ?

Dari hasil Investigasi LH (liputanhukum.com) bahwa diduga kuat telah terjadi Kesaksian dan atau Keterangan Palsu oleh Para Pelaku ketika diperiksa Penyidik yakni berupa rekayasa keterangan (Keterangan Palsu) di hadapan Penyidik saat mereka diperiksa. Kesaksian dan atau Keterangan Palsu ini mulai terkuak saat RN mulai ‘bernyanyi’ bahwa sesungguhnya bukan dia Pemilik Barang. Hal ini sesuai keterangan dari Keponakan SG berinisial AY kepada LH melalui Telepon Selularnya (Rabu, 02/12/2020-Red).

Pengakuan RN saat di BAP sebagai Pemilik Barang hanyalah Kesepakatan Internal Mereka agar DA, RM dan DN selamat dari Jeratan Hukum sehingga dalam kesaksian mereka DA hanya dibuat berperan sebagai supir, padahal Status sebagai Supir yang sesungguhnya adalah DN yang tidak ikut tertangkap dalam OTT tersebut. Fakta lainnya yang berhasil didapatkan LH dari keterangan TP, RN, dan RM, termasuk dari DA bahwa Peran DA adalah:

1. Sebagai Pihak yang Pertama kali mengetahui keberadaan Pemilik Barang (Kulit Harimau) bersama TP;
2. Sebagai Pemodal yang membayar Barang (Kulit Harimau) tersebut kepada SS senilai Rp 4 Juta dengan kekurangan Rp 1 Juta lagi yang akan dilunasi setelah Barang terjual;
3. Sebagai Pemodal yang membiayai semua perjalanan Tim (6 Orang) mulai dari Rental Mobil, sampai dengan Biaya Operasional mereka sejak berangkat dari Labura (Kamis, 01/10/2020-Red) hingga terjadi OTT Oleh Personil Polisi Polrestabes Medan di Jl. Namo Pencawir, Desa Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang (Jum’at, 02/10/2020-Red).

Demikian pula RM, dalam keterangannya menjelaskan bahwa status dalam kasus ini hanya mendampingi Calon Istrinya. “ Status Saya hanya sebagai Saksi karena hanya mendampingi Calon Istri Saya (RN). Karena saya lihat Calon Saya hanya sendiri Perempuan yang lainnya Laki-laki semuanya makanya Saya dampingi. Itu yang Saya sampaikan dalam BAP ketika diperiksa Penyidik “ pungkas RM ketika dikonfirmasi Redaksi LH (Rabu, 02/12/2020-Red). Padahal sesuai Fakta yang didapatkan LH dari keterangan TP dan DA adalah bahwa sejak awal (perencanaan bisnis ini), pengambilan Barang (Kulit Harimau) ke Kampung Pemilik (SS), hingga berangkat bersama-sama ke Medan sampai terjadi OTT, RM selalu ikut aktif. Selain itu, alasan mendampingi Caoln Istri juga diduga hanyalah alibi, sebab faktanya Anak Menantu RN berinisial DN ikut juga dalam rombongan mereka yang berperan sebagai Supir. Jadi alasan RM untuk mendampingi Calon Istrinya (RN) diduga cukup lemah.

Oleh karena itu, dari hasil investigasi dan penelusuran LH bahwa ditemukan beberapa kejanggalan yang diduga mengarah kepada kebohongan dan atau pemberian keterangan serta kesaksian palsu oleh ke 5 Orang ini di hadapan Penyidik Poltabes Medan, yaitu:

Pertama, pengakuan TSK RN bahwa dirinya adalah Pemilik Barang terbantahkan karena sesungguhnya mereka mendapatkan Barang Kulit Harimau itu dari Seorang bernama SS Warga Dusun II Untemungkur, Desa Sibito, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labura. Jadi, diduga kuat bahwa pengakuan TSK RN dihadapan Penyidik yang menerangkan bahwa itu barang peninggalan Neneknya adalah keterangan palsu. Tujuannya untuk memenuhi persekongkolan mereka baik sebelum peristiwa OTT maupun dugaan persekongkolan untuk menyelamatkan DA dari Jeratan Hukum dengan konvensasi bahwa DA berjanji akan menanggung biaya hidup anak-anak dari RN selama yang bersangkutan di Penjara sekaligus berjanji akan berupaya mengeluarkan RN dari Penjara.

Kedua, Pengakuan RM bahwa dirinya hanya mendampingi Calon Istrinya dalam hal ini TSK RN juga terbantahkan karena sesungguhnya menurut keterangan yang diperoleh dari Warga Sekitar kediaman RN, bahwa antara RM dan RN sudah menikah. Keterangan Palsu ini dilakukan diduga agar RM bisa bebas dari Jeratan Hukum dengan perjanjian supaya yang bersangkutan (Sebagai Suami) dapat mencari uang untuk menebus RN dari Penjara sekaligus mencari nafkah buat keluarga mereka. Selain alasan itu, alasan mendampingi Calon Istri dengan beralibi “tabu” karena hanya sendirian perempuan dalam rombongan juga diduga lemah karena faktanya ada DN yang merupakan anak menantu RN yang ikut serta sebagai Supir.

Selain alasan-alasan tersebut, berdasarkan hasil investigasi liputanhukum.com bahwa 4 Orang dari Sindikat yakni RN, TP, RM, dan DA diduga kuat telah mempunyai setingan kesepakatan terkait peran masing-masing sebelum berangkat ke Medan membawa Barang Kulit Harimau tersebut. Adapun dugaan setingan dan kesepakatannya adalah bahwa RN disepakati seolah-olah menjadi Pemilik Barang dengan alasan Barang Warisan Neneknya dengan tujuan agar pembagian hasil dari penjualan yang direncanakan bisa mereka (ber-4) kuasai alias mendapatkan keuntungan paling besar. Dengan Logika Taksasi bahwa Modal Pembelian Barang dari Pemilik (SS) adalah Rp 5 Juta. Harga dari Calon yang mengaku sebagai Pembeli Rp 100 Juta / Kg. Padahal Berat Barang Kulit Harimau tersebut ditaksir 3 Kg. Sementara itu, mereka (Mediator Pihak Pembeli dan Pihak Penjual) sudah bersepakat Sistem Transaksi ini adalah “belah semangka” yakni 50% dari Nilai Penjualan untuk Pemilik Barang (=Rp 150 Juta – 5 Juta sebagai Modal Pembelian ke Pemilik Utama berinisial SS) sementara yang 50% lagi buat Para Mediator (=Rp 150 Juta).

Dengan kesepakatan Mereka ber-4 tersebut tentunya pembagian dari keuntungan transaksi andaikata terjadi akan dikuasi mereka ber-4. Namun naas, sebelum harapan dan angan mereka terealisasi sudah keburu di OTT oleh Personil Polrestabes Medan.

Sesuai Ketentuan Pasal 40 Ayat (2)UU No. 5 Tahun 1990 Para Tersangka dapat dijerat dengan Ancaman Hukuman Pidana 5 Tahun Penjara dan Denda Rp 100 Juta. ” Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) ” demikian bunyi ketentuan pidananya.

Ketentuan yang dimaksud Pada Pasal 21 Ayat (2) Huruf d   berbunyi ” memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia ” begitu bunyi Pasal 21 Ayat (2) Huruf d UU No 5 Tahun 1990. (Afdillah/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *