464 views

Perkembangan Terkini Kasus Novel: KAPOLRI MENANDATANGANI SURAT TUGAS BENTUK TIM KHUSUS

JAKARTA-LH: Setelah sekian lama membisu, kini kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan kembali menjadi pemberitaan hangat di tanah air. Kepolisian Republik Indonesia mengeluarkan surat tugas untuk membentuk tim khusus dalam rangka pengusutan kasus ini. Surat tugas itu dikeluarkan pada 8 Januari 2019 dan ditandatangani langsung oleh Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian. Terkait informasi ini,  Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Muhammad Iqbal membenarkan adanya surat tugas tersebut. Iqbal mengatakan bahwa pembentukan tim melalui surat tugas tersebut untuk menindaklanjuti rekomendasi Tim Komnas HAM dalam penuntasan kasus Novel Baswedan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian mengeluarkan surat tugas untuk membentuk tim khusus dalam rangka pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Surat tugas itu dikeluarkan pada 8 Januari 2019 dan ditandatangani oleh Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian. Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Muhammad Iqbal membenarkan adanya surat tugas tersebut. Ia mengatakan, pembentukan tim melalui surat tugas tersebut untuk menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam penuntasan kasus Novel Baswedan.

“Bahwa benar Kapolri sudah mengeluarkan surat perintah tersebut atas tindak lanjut rekomendasi Komnas HAM atas ranah Kepolisian negara Republik Indonesia dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan,” pungkas Iqbal di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan (Jumat, (11/01/2019-Red). Tim Gabungan terdiri dari 65 orang dari berbagai unsur di antaranya Praktisi yang menjadi Tim Pakar, Internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kepolisian. “Tim gabungan yang terdiri atas Kepolisian Negara Republik Indonesia, KPK, tokoh masyarakat, pakar dan pihak lain yang dibutuhkan, paling lambat 30 hari setelah rekomendasi (Komnas HAM) diterima,” tambah Iqbal.

Dalam surat tugas tersebut, tim diperintahkan melaksanakan setiap tugas serta melakukan koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak dan instansi terkait berdasarkan prosedur tetap yang telah diatur sesuai dengan perundang-undangan. Surat tugas ini berlaku selama enam bulan terhitung mulai 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019.

Sebagaiman telah diketahui oleh masyarakat luas, bahwa penyiraman air keras terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017. Saat itu,  seusai melaksanakan shalat subuh di masjid tak jauh dari rumahnya, Novel tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Cairan itu mengenai wajah Novel. Kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga Novel tak sempat mengelak. Tak seorang pun yang menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak saat itu, Novel menjalani serangkaian pengobatan untuk penyembuhan matanya. Ia terus menanti penuntasan kasusnya. Hingga saat ini, kasus ini masih misteri dan Pihak Kepolisian belum bisa mengungkap siapa pelaku dan dalang penyerangan tersebut.

Salah satu hasil dari laporan pemantuan KOMNAS HAM terhadap kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan adalah bahwa Komnas HAM merekomendasikan agar Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian segera membentuk tim gabungan. “Tim gabungan untuk mengungkap fakta, peristiwa dan pelaku penyiraman air keras kepada Novel yang terjadi pada 11 April 2017,” pungkas Choirul Anam salah satu Komisioner Komnas HAM dalam jumpa pers di Kantor Komnas HAM Jakarta akhir tahun silam (Jumat, 21/12/2018-Red).

Kasus Novel Baswedan merupakan salah satu kasus yang masih misteri sampai saat ini. Berbagai Pihak, Praktisi Hukum, Politisi, dan elemen masyarakat lainnya memberikan komentar yang beragam terhadap kasus ini. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan berat bagi para penegak hukum untuk sesegera mungkin mengungkap kasus penomenal ini agar semuanya terang benderang. (Pohan H/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.