EMPAT PASANG BALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR JAWA BARAT AKAN BERTARUNG KETAT

FOTO CAGUB JABAR

BEKASI-LH: Empat Pasangan Bakal Calon Gubernur dan Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018 akan bertarung pada Pilkada serentak bulan Juni tahun ini. Mereka sudah harus mendaftarkan diri ke KPUD Jabar paling lambat 10 Januari 2018.

Keempat pasangan tersebut dan partai pengusungnya adalah:
1. Sudrajat dan Ahmad Syaikhu;
Diusung oleh 3 Partai yaitu Gerindra, PKS, dan PAN (Total 27 Kursi)
2. Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi;
Diusung oleh 2 Partai yaitu Golkar dan Demokrat (Total 29 Kursi).
3. Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum;
Diusung oleh 4 Partai yaitu PPP, PKB, Nasdem dan Hanura (Total 24 Kursi).
4. TB Hasanuddin dan Anton Charliyan;
Diusung oleh 1 Partai yaitu PDIP (Total 20 Kursi).

Pilkada Jawa Barat menjadi ajang perebutan yang sangat kompetitif dengan berbagai alasan utama, yaitu:

(1) Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah pemilih terbesar dalam skala nasional, data KPU menunjukkan dalam pilpres 2014 pemilih Jawa Barat mencapai angka 33 juta orang atau hampir menyentuh 20% dari pemilih nasional dan di prediksi akan terus meningkat mencapai 37-38 juta pemilih di tahun 2018 dan 2019 (KPU, 2017). Hasil ini kemudian diperkuat survei Indo Riset Konsultan yang menjelaskan bahwa hampir lebih dari 66% pemilih Jawa Barat akan memilih kandidat asal Jawa Barat jika diusung menjadi RI 1 atau RI 2 (IRK, 2016-Red).

(2) Jawa Barat selain menjadi barometer kandidat perseorangan, juga menjadi barometer nasional bagi partai politik dan menjadi catatan khusus bahwa dalam setiap pileg, parpol yang bisa memenangkan suara secara mayoritas di Jawa Barat maka akan memiliki kans sangat besar bahkan mendekati sebuah kepastian untuk menjadi pemenang di tingkat nasional, tren ini di mulai sejak 1999 oleh PDIP, 2004 oleh Golkar, 2009 oleh Demokrat dan terakhir di 2014 kembali oleh PDIP, sehingga dapat disimpulkan bahwa Jawa Barat adalah kawasan yang niscaya penting bagi partai politik untuk dimenangkan (Kedaulatan Rakyat, 2014-Red).

(3) Jawa Barat tetap menjadi salah satu provinsi penopang perekonomian nasional, dengan pangsanya yang mencapai 13,32%, yaitu tertinggi ketiga setelah DKI Jakarta (17,55%) dan Jawa Timur (14,95%). Dan sumbangan PDRB Jawa Barat terhadap perekonomian nasional mengalami peningkatan 13,22% di tahun 2016, membesarnya kontribusi perekonomian Jawa Barat terhadap nasional karena di topang basis ekonomi yang fokus pada usaha industri produktif dan utamanya industri pengolahan, pertanian dan perdagangan. Khusus pada lapangan usaha industri pengolahan, pangsa Jawa Barat terhadap nasional menduduki peringkat pertama yaitu 27,6% (Bank Indonesia: 2017-Red).

(4). Jawa Barat adalah daerah penyangga ibu kota Indonesia DKI Jakarta, Jumlah penduduk di daerah penyangga yaitu di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Kota Depok sebesar 31,20% dari jumlah penduduk Jawa Barat atau seperempatnya tinggal di daerah penyangga ibu kota (BPS, 2017). Jumlah penduduk Jawa Barat yang besar di kawasan penyangga ibu kota negara akan memberikan dampak dan efek yang besar bagi hubungan Jawa Barat dengan politik nasional di Jakarta, baik dari sisi strategi, demografi dan etnografi.

Dengan melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh Jawa Barat dalam skala nasional, tidak aneh jika banyak partai politik berebut untuk meraih suara terbanyak dan memenangkan setiap pertarungan politik di pemilihan umum, baik itu pilpres (pemilihan presiden), pileg (pemilihan legislatif) serta pilkada bupati/walikota dan gubernur, karena Jawa Barat bisa menjadi instrumentasi utama bagi kepentingan partai politik yang mampu merubah peta politik dan ekonomi nasional. 

Kontestasi pemilihan di Jabar selalu menempatkan partai berhaluan nasionalis bersaing keras merebut kantong-kantong suara, setidaknya ada 3 partai berhaluan nasionalis saat ini yang menempati peringkat 3 besar, yaitu PDI-P, Golkar dan Gerindra. (Raza/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *