TAS PEMICU KEHANCURAN “TAS HITAM” YANG SELALU DIBAWA AJUDAN PRESIDEN AS

TAS NUKLIR AS OL 8 JULI 2016

LIPUTAN HUKUM: Negara dengan senjata berhulu ledak nuklir paling banyak di dunia adalah Amerika Serikat. Wewenang penggunaan senjata pemusnah massal itu berada di tangan presiden. Namun, tahukah anda sosok yang lebih berbahaya daripada sang presiden Negeri Adi Daya itu terkait ancaman bom nuklir, justru ajudan menenteng sebuah tas jinjing warna hitam?

Business Insider menjelaskan betapa berbahayanya isi di dalam tas berjuluk ‘Football’ itu. Tas tersebut selalu dibawa ajudan presiden AS dalam jarak beberapa meter, ke manapun sang presiden pergi. Di dalam tas ini terdapat 75 halaman dokumen pertahanan, rencana perang, lokasi persembunyian presiden di sebuah buku hitam, 10 halaman instruksi siaran nasional mendadak, serta kode aktivitas senjata nuklir yang bisa digunakan sewaktu-waktu seandainya AS mengalami situasi darurat. Kode itu akan dikirim ke markas komando militer, untuk meluncurkan roket balistik lintas benua.

“Di saat rehat dulu saya sering sengaja membuka isi tas itu. Sekadar untuk mengingatkan betapa pentingnya keputusan yang diambil presiden ketika isi tas ini terpakai,” kata Robert Patterson, pembawa tas hitam Football di era Presiden Bill Clinton. Jika presiden sedang berlibur atau tidak bekerja, tas ini disimpan di brankas rahasia Gedung Putih.

Bill Gulley, mantan staf penasehat Gedung Putih bidang pertahanan, menjelaskan bahwa julukan Football diberikan selama era Perang Dingin sebagai sandi rahasia terkait program nuklir berkode ‘dropkick’. Artinya, jika ‘dropkick’ hendak diluncurkan, football harus lebih dulu diaktivasi.

Tas itu nyaris dipakai oleh Presiden Richard Nixon. Beruntung, proses aktivitasi nuklir tidak semudah di film-film Hollywood. Penasehat presiden, serta sang ajudan sendiri, akan memperingatkan presiden agar tak terburu-buru memutuskan penggunaan bom nuklir buat menyelesaikan konflik.

Surat kabar the New York Times menceritakan detik-detik menegangkan ketika Presiden Nixon pada 1974, dalam kondisi emosional, menginstruksikan anak buahnya menyiagakan senjata nuklir karena provokasi Uni Soviet di Vietnam. Perintah itu untungnya diulur-ulur oleh anak buah Nixon. Mereka semua meminta presiden memikirkan ulang taktik memamerkan pesawat membawa bom nuklir di kawasan Vietnam.

“Pesawat B-52 yang membawa bom atom sudah terbang saat itu, rentan terjadi insiden,” kata Scott D. Sagan, sejarawan Universitas Stanford.

Insiden lain terjadi pada 1980, Zbigniew Brzezinski selaku penasehat keamanan Presiden Jimmy Carter menerima laporan adanya aktivitas nuklir oleh Soviet, yang kabarnya segera menjangkau daratan AS. Ternyata laporan ini segera dikoreksi militer, sebelum Brzezinski menelepon sang pemimpin Negeri Paman Sam.

Sepanjang sejarah AS, baru Presiden Harry S. Truman yang menggunakan wewenangnya menjatuhkan bom atom. Hasilnya adalah kehancuran total di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, menjelang berakhirnya Perang Dunia ke-2.

AS diperkirakan memiliki 925 peluru kendali berhulu ledak nuklir. Sebagian dibawa oleh kapal selam, di darat, serta di pangkalan militer rahasia yang jarang diketahui publik. Dalam hitungan kurang dari 30 menit, rudal balistik Negeri Paman Sam bisa menjangkau benua lain. Potensi ledakannya 17 ribu kali lipat di atas Hiroshima, artinya dunia akan kiamat ketika semua nuklir AS diledakkan.

Isu wewenang memerintahkan serangan nuklir ini digunakan Calon Presiden Hillary Clinton menyerang rivalnya, Donald Trump. Hillary menyebut Trump, yang emosional dan kerap serampangan dalam berbicara, tidak layak menjabat sebagai presiden AS.

“Bayangkan, orang yang bisa anda provokasi di Twitter bukanlah jenis orang yang bisa kita beri amanah senjata nuklir,” kata Hillary dalam kampanye pekan lalu.
Trump dulu sering menuntut pemerintah melucuti senjata nuklir. Namun, dalam kampanye 30 Maret lalu, sang miliarder kasino dan properti itu melontarkan komentar berbahaya soal nuklir. Dia ditanya oleh pembawa acara TV MSNBC mengenai penggunaan nuklir melawan ISIS.

“Saya tentu tidak akan melupakan kartu unggulan tersebut,” ujarnya.

Selama bom nuklir belum dilucuti sepenuhnya di seluruh dunia, penduduk bumi hanya bisa berharap ajudan presiden AS mampu mengingatkan sang pemimpin agar bertindak waras dalam keadaan terdesak sekalipun. (RZ/Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *