PEMERINTAH YANG TAK ASHABIYAH AKIBAT TERLALU TERLENA DENGAN KEKUASAAN AKAN RUNTUH

IBNU KHALDUN

Ibnu Khaldun: “ Pemerintah Yang Tak Lagi Mengandalkan Ashabiyah Dalam Menjalankan Negara Akibat Terlalu Terlena Dengan Kekuasaan, Akan Runtuh.”

JAKARTA-LH: Merilis apa yang ditulis oleh detikNews (Kamis 24 Mar 2016, 16:25 WIB-Red) dengan Topik Resep Ibnu Khaldun Agar Indonesia Lebih Maju, Dalam buku The Muqaddimah, Ibnu Khaldun menulis pemerintah yang tak lagi mengandalkan ashabiyah dalam menjalankan negara akibat terlalu terlena dengan kekuasaan, akan runtuh. Buku tersebut juga masuk dalam daftar bacaaan CEO Facebook Mark Zuckeberg.
Ashabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat. Ashabiyah ini diartikan sebagai ikatan sosial budaya, solidaritas sosial, solidaritas kelompok, atau nasionalisme.

Ibnu Khaldun juga menulis ashabiyah biasanya ada pada masa awal terbentuknya sebuah negara. Namun setelah berjalannya waktu, rasa kebersamaan itu akan luntur dan masing-masing mengejar kepentingannya sendiri.

Ibnu Khaldun sepanjang hidupnya mengabdi pada kerajaan di Afrika Utara dan melihat kesultanan bangkit dan runtuh. Ia berkesimpulan resep negara yang sukses dan langgeng adalah rasa kebersamaan atau solidaritas sosial yang disebutnya sebagai ashabiyah

Di Indonesia, ashabiyah ini sebenarnya bisa terlihat dalam perjuangan merebut kemerdekaan. “Ibnu Khaldun mengingatkan, bangsa yang tidak mengokohkan identitasnya tidak bisa maju,” kata Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bachtiar, sebagamana dirilis oleh detikcom beberapa waktu yang lalu.

Belajar dari Ibnu Khaldun, kata dia, Indonesia harus mencari dan memperkuat identitasnya sendiri dan jangan sekadar menyerap kebudayaan impor. Misalnya, Indonesia mayoritas muslim, maka identitas yang paling kokoh warisan sejarahnya adalah keislamanannya.

“Islam tidak tersekat oleh kultur tertentu, kalau dijadikan sebagai identitas, kemudian didialogkan dengan kebudayan Indonesia, menghasilkan gaya dalam menjalankan Islam khas Indonesia atau sekarang (istilah) populernya Islam nusantara,” ungkap Dosen Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini.

Menurut Tiar, identitas diri yang kuat itu akan membangkitkan kepercayaan diri bangsa sehingga Indonesia akan punya kesempatan menjadi bangsa yang terdepan. Terlebih saat ini Indonesia sedang menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Kita perlu kepercayaan diri untuk menembus pasar asia, kalau kita tidak masuk ke pasar itu akan kalah. Bekalnya kepercayaan diri itu sebagai bangsa,” tuturnya.

Tiar berpendapat pemikiran Khaldun masih relevan untuk Indonesia, salah satunya soal tuntutan pemimpin yang berintegritas. Terkait kepemimpinan, ada lima syarat sebagai yang perlu dimiliki menurut Ibnu Khaldun, yakni memiliki pengetahuan, memiliki sifat adil, mempunyai kemampuan, serta sehat panca indera dan badannya.

“Kita perlu pemimpin yang berintegritas, percaya diri, dan sanggup membangkitkan kepercayaan diri masyarakat. Bukan pemimpin pembebek dan mudah dibeli oleh asing,” tegasnya.

Apakah Anda pernah membaca Mukadimah? Mari berbagai cerita dan opini Anda soal buku ini di kolom komentar artikel ini.(Raza/DN/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *