PIDATO KETUA MPR RI (SABDA KAWEDAR) PERINGATAN PIDATO BUNG KARNO TANGGAL 1 JUNI 1945

ADVER 5

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,
Sebagai insan yang beriman, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadlirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini dapat bersama-sama memperingati Pidato Bung Karno Tanggal 1 Juni 1945 dalam keadaan sehat walafiat.
Atas nama Pimpinan dan Anggota MPR, dengan penuh rasa bangga dan perasaan suka cita, pertama sekali Saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Saudara Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, Walikota dan seluruh masyarakat Blitar, atas perhatiannya yang besar menyambut hari yang bersejarah ini.
Kami mengharapkan melalui momentum peringatan hari yang bersejarah ini, akan semakin memperkokoh ikhtiar kita sebagai bangsa, yang sedang berjuang meraih masa depannya, mewujudkan Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera, sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Hadirin yang kami hormati,
Hari ini, tanggal 1 Juni 2015, mengingatkan kembali kepada kita semua, peristiwa yang maha penting 70 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1945, ketika Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya, menorehkan tinta emas memperbincangkan secara seksama tentang dasar-dasar negara Indonesia merdeka yang hendak didirikan. Di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno dengan jelas menguraikan tentang prinsip-prinsip dasar berbangsa dan bernegara, yang kemudian diberi nama Pancasila.
Sebagai Pimpinan MPR sekaligus anak bangsa, Saya memaknai secara mendalam, betapa tingginya kekuatan nilai dari prinsip-prinsip dasar bernegara Bung Karno itu, yang sesungguhnya adalah “janji-janji kebangsaan, yang harus diwujudkan dan menjadi pemandu perjalanan bangsa menuju kehidupan yang lebih adil, lebih makmur dan lebih sejahtera. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Saya menghimbau kepada seluruh elemen bangsa, baik penyelenggara negara maupun masyarakat, untuk memahami dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan Semangat Pancasila, Mari Kita Wujudkan Janji-Janji Kebangsaan. Itulah tema kita pada peringatan pidato Bung Karno hari ini.
Hadirin yang kami hormati,
Sebagai renungan kita bersama, bahwa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, para pendiri bangsa menyadari sepenuhnya, bahwa Pancasila adalah philosofiche groundslag dan weltanchauung, yaitu fundamen, filsafat, dan landasan yang akan menjadi pijakan utama bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, baik di masa kini maupun masa depan.
Fakta sejarah mencatat, bahwa sejak berdirinya bangsa Indonesia, Pancasila telah diterima secara aklamasi sebagai falsafah dan ideologi negara, yang menjadi sumber inspirasi kehidupan bangsa kita. Oleh karenanya keberadaan Pancasila telah final sebagai konsensus nasional. Dengan demikian tidak ada lagi terbuka ruang untuk mempersoalkan Pancasila, apalagi meragukan keberadaanya sebagai falsafah dan dasar negara. Tidak perlu lagi memperdebatkan tentang kelahiran Pancasila, karena prinsip dasar yang disampaikan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, prinsip dasar yang tertuang dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan prinsip dasar yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945, adalah satu kesatuan proses kelahiran Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara.
Saat ini dan ke depan, menjadi tanggung jawab besar kita semua, untuk melaksanakan sila demi sila Pancasila, sebagai perwujudan janji-janji kebangsaan yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa. Pemenuhan janji-janji kebangsaan sesungguhnya adalah implementasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagai dimensi strategis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kehidupan politik kita, haruslah politik Pancasila. Kehidupan ekonomi kita haruslah ekonomi Pancasila. Kehidupan sosial budaya kita haruslah berdasarkan Pancasila. Demikian pula dalam penegakan hukum, menjalankan pemerintahan haruslah bersendikan pada nilai-nilai Pancasila.
Hadirin yang kami hormati,
Apabila kita cermati, demikian luasnya makna Pancasila sebagai prinsip dasar yang terus hidup dinamis melampaui ruang dan waktu. Pancasila adalah jatidiri bangsa, meskipun kita lahir dalam perbedaan, baik agama, suku, budaya, dan bahasa. Faktanya persatuan menjadi pilihan, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Itulah kekuatan nilai-nilai Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Marilah Pancasila kita rawat, kita pupuk, kita jaga, dengan cara melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kita juga patut bebangga, memiliki jatidiri sebagai bangsa yang santun, bermoral dan beretika yang bersumber dari Pancasila. Demikian derasnya arus globalisasi dan informasi, yang terkadang membawa pengaruh negatif kepada bangsa kita, namun kita tetap mampu menangkal dan tetap kokoh memepertahankan jati diri bangsa kita. Oleh karenanya, Saya memandang etika kehidupan berbangsa menjadi hal penting yang harus ditegakkan, dan menjadi penuntun setiap gerak dan langkah bangsa kita. Hanya dengan kekuatan etika dan moral yang tinggi, konsisten dan bertanggungjawab, kita akan mampu menjalankan pemerintahan negara dengan baik, dan jalan yang benar sehingga membawa manfaat bagi sebesar besarnya kesejahteraan rakyat.
Terkait dengan etika dan moral bangsa, atas nama Pimpinan dan Anggota MPR, secara khusus Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Presiden Joko Widodo, atas perhatiannya menegakkan etika kehidupan berbangsa, melalui revolusi mental bangsa yang Bapak Presiden canangkan. Penegakan etika kehidupan berbangsa adalah tanggungjawab kita semua, seluruh elemen bangsa, yang harus dilakukan secara bersama-sama dan bergotong royong. Pekerjaaan yang berat akan menjadi ringan apabila kita melaksanakannya secara bersama-sama Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing Iulah makna gotong-royong.
Hadirin yang kami hormati,
Perwujudan janji-janji luhur kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila adalah tantangan besar bangsa kita saat ini dan yang akan datang, di tengah krisis multidimensi baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Majelis Permusyawaratan Rakyat berdasarkan amanat Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR,DPR,DPD, dan DPRD diberi amanat untuk memasyarakatkan Ketetapan MPR, Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pemasyarakatan Ketetapan MPR, khususnya TAP MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa adalah wujud peran Majelis Permusyawaratan Rakyat, dalam menciptakan suasana sejuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada etika dan moral bangsa, baik dalam bidang legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Dengan melaksanakan etika kehidupan berbangsa, maka kita akan mampu menghadapi tantangan bangsa dalam mewujudkan sistem politik yang demokratis, sistem hukum yang adil, sistem ekonomi yang adil dan produktif, sistem sosial dan budaya yang beradab, penciptaan sumberdaya manusia yang bermutu, serta menangkal dampak negatif globalisasi.
Hadirin yang kami hormati,
Demikian luasnya makna Pancasila, maka nilai-nilainya dapat dipahami melalui berbagai sudut pandang, baik dari sudut pandang Konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia, maupun Bhinneka Tunggal Ika. Dari sudut pandang konstitusi, nilai-nilai Pancasila tetap kokoh menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila juga tetap tercantum dalam konstitusi negara kita meskipun beberapa kali mengalami pergantian dan perubahan. Ini menunjukkan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional dan dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat Indonesia. Dari sudut pandang NKRI Pancasila merupakan syarat mutlak berdirinya Indonesia sebagai negara kesatuan. Pancasila adalah alat pemersatu bangsa. Dari sudut pandang Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila menyatukan semangat kebersamaan, semangat nasionalisme meskipun kita dilahirkan dalam perbedaan baik suku, bahasa, agama, adat, dan budaya.
Hadirin yang Saya Hormati,
Membumikan Pancasila sebagai jatidiri bangsa, merupakan pekerjaan besar, yang membutuhkan semangat yang besar. Relevan dengan kewajiban untuk mewujudkan Visi MPR sebagai rumah kebangsaan, pengawal ideologi Pancasila dan kedaulatan Rakyat, maka MPR pada hari ini mencanangkan Ini baru Indonesia, sebagai metoda pemasyarakatan nilai-nilai kebangsaan agar tetap kokoh berada dalam sanubari setiap manusia Indonesia. Ini baru Indonesia hadir sebagai bentuk kepedulian MPR terhadap krisis jatidiri yang melanda bangsa kita saat ini dan untuk mempersiapkan generasi penerus yang memiliki jiwa dan semangat nasionalisme yang tinggi. Ini baru Indonesia lahir untuk mewujudkan Indonesia yang hebat dan bermartabat, yang terus menyongsong masa depannya dengan penuh semangat gotong-royong.
Sebagai sebuah gerakan, Ini Baru Indonesia diharapkan dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk menyadarkan kembali betapa pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. MPR menjadi motor penggerak dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan itu. Oleh karenanya, mari kita buktikan bahwa Indonesia sejati yang memiliki jatidiri, beretika, dan berbudaya masih ada, dan terus akan ada sepanjang masa. Mudah-mudahan apa yang akan saya bacakan ini dapat menjadi renungan dan spirit kita bersama:
Masih Indonesiakah kita, setelah sekian banyak jatuh bangun, setelah sekian banyak tertempa dan tertimpa, setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk.
Masihkah kita meletakkan harapan, di atas kekecewaan, persatuan di atas perselisihan, musyawarah di atas amarah.
Kejujuran di atas kepentingan. Ataukah ke-Indonesia-an kita telah pudar. Dan hanya tinggal slogan dan gambar
TIDAK!
Karena mulai kini nilai-nilai itu, Kita lahirkan kembali, Kita bunyikan dan kita bumikan, menjadi jiwa dan raga setiap manusia Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke, Kita akan melihat lebih banyak lagi, senyum ramah dan tegur sapa, gotong-royong dan tolong menolong, kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaan, kepedulian menjadi dorongan
Dari terbit hingga terbenamnya matahari, Kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan
Wajah mereka adalah wajah Indonesia, yang sebenarnya, tangan mereka adalah tangan Indonsia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia, Yang sesungguhnya.
HARI INI KITA GEMAKAN, INI BARU INDONESIA
Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Saudara Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Ibu Megawati Soekarnoputeri Presiden ke-5 Republik Indonesia, Para Pimpinan Fraksi/Kelompok DPD, Pimpinan Badan Sosialisasi, Badan Pengkajian, Badan Penganggaran, dan para Anggota MPR, keluarga Bung Karno, Walikota Blitar, undangan yang hadir dan seluruh tokoh dan masyarakat Blitar, dalam peringatan Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945, semoga dengan semangat Pancasila, semangat Ini baru Indonesia kita tetap teguh untuk melaksanakan janji-janji kebangsaan kita.
Khusus kepada media cetak dan elektronik serta seluruh insan pers, kami mengucapkan terima kasih atas peran sertanya selama ini bersama MPR dalam membangun jatidiri bangsa dan kepercayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia masa depan yang lebih baik. Terima kasih.
Wabillahittaufik Wal hidayah,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Warakatuh.
Oom santi santi santi oom
Jakarta, 1 Juni 2015
Ketua MPR,
DR. ZULKIFLI HASAN, SE.,MM
(Humas Setjend MPR-RI)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *