Membiasakan Hidup dalam Kebhinnekaan

INDONESIA merupakan negara besar, baik dilihat dari aspek kewilayahan atau geografis maupun keragaman (etnis, suku, budaya, agama). Panjang wilayah Indonesia mencapai sekitar 5.000 km yang diukur dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur Indonesia. Bila menaiki pesawat Boeing dengan kecepatan 825 850 km per jam maka untuk menempuh jarak sejauh itu diperlukan waktu tempuh sekitar 6 jam. Bila pesawat berangkat dalam waktu yang sama, misalnya, dari Merauke dan dari Jakarta maka dengan waktu tempuh 6 jam, satu pesawat akan mencapai ke Sabang, dan satu pesawat lagi akan mencapai Uni Emirat Arab.
Indonesia, jika diukur dari utara ke selatan, atau dari Miangas di utara hingga Pulau Rote di selatan, maka jauhnya sekitar 2.000 km. Jarak antara Miangas hingga Pulau Rote hampir sama dengan jarak antara New York hingga Florida atau San Fransisco sampai Kepulauan Bermuda di Amerika. Luas Indonesia hampir sama seperti negara Amerika Serikat minus Alaska. Kita harus bangga memiliki negara yang besar.
Selain itu, dari jumlah penduduk, Indonesia menempati urutan keempat terbesar di dunia. Tiongkok berada di tempat teratas dengan jumlah penduduk 1,4 miliar, diikuti India dengan 1,2 miliar, selanjutnya Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 309 juta, dan kemudian Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta. Indonesia juga kaya dengan keragaman etnis. Di Indonesia terdapat sedikitnya 300 suku bangsa.
Keragaman etnis di Indonesia tersegmentasi atau segmented pluralism. Yang dimaksud kemajemukan yang tersegmentasi adalah setiap suku bangsa itu mendiami tempat-tempat tertentu. Misalnya, suku Bali dengan segala budaya dan bahasa yang dimilikinya mendiami atau berada di Pulau Bali, begitu pula suku-suku lainnya yang mendiami wilayah tertentu. Dengan demikian, kemajemukan yang ada di Indonesia lebih tersegmentasi menurut daerah masing-masing.
Keragaman juga dilihat dari sisi agama. Pemeluk agama di Indonesia bermacam-macam. Ada Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindhu, Budha, dan Kong Hu Chu. Dalam setiap agama pun masih ada keragaman. Seperti dalam Islam, ada Sunni, Syiah, Muhammadiyah, NU, LDII, dan lainnnya. Keragaman pun ada pada Kristen, Hindu, atau Budha. Jadi kita memiliki kebhinnekaan, baik antarsuku, agama, mau pun lainnya. Karena itu sudah bukan saatnya lagi kita mempersoalkan kebhinnekaan. Kemajemukan kita sudah given.
Dalam beberapa kesempatan, Ketua MPR Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa persoalan kebhinnekaan seharusnya sudah tidak menjadi masalah lagi bagi bangsa Indonesia. Masalah kebhinnekaan, SARA (suku, agama, ras dan antar golongan), dan toleransi seharusnya sudah selesai dan bukan lagi retorika karena sudah sejak 69 tahun lalu sudah dicetuskan untuk persatuan oleh para pendiri bangsa ini, katanya.
Menurut Zulkifli, sikap egois terbukti tidak bisa membuat Indonesia merdeka. “Hanya dengan bersatu kita bisa merdeka, seharusnya kita sudah tamat dalam masalah (kebhinnekaan) ini, ujarnya.
Kebhinnekaan atau perbedaan tak bisa dielakkan. Bhinneka itu adalah sunnatullah dan merupakan ciptaan Tuhan yang patut disyukuri. Kebhinnekaan tidak bisa ditolak. Keragaman memang sengaja diciptakan. Tuhan menciptakan manusia dari berbagai golongan yang berbeda-beda (bersuku-suku) sehingga ciptaan adalah kodrat yang tidak bisa dihindari.
Masyarakat perlu menjaga kebhinnekaan bangsa. Caranya, tanpa harus memperbesar perbedaan. Dengan cara seperti itu, kita semakin terbiasa hidup dalam kebhinnekaan.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi kalimat yang diagung-agungkan oleh bangsa ini untuk membangun negeri secara bersama-sama dalam ragam perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri sebenarnya adalah salah satu kutipan dari kakawin (syair) Jawa Kuno karangan pujangga mashyur, Mpu Tantular. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Siwa (Hindhu) dan umat Budha. Kutipan berikut ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Secara lengkap seperti di bawah ini.
Rwaneka dhatu winuwus Budha Wiswa,
Bhinneka rakwa ring apan kena paranosen
Mangka ng Jinatwa kalawan siwatatwa tunggal
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa
Terjemahannya:
Konon Budha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Budha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran
Menilik dari karya Mpu Tantular itu, kerukunan kehidupan beragama di Indonesia sudah terjalin sejak berdirinya Kerajaan Majapahit. Dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, suasana kerajaan Majapahit begitu damai. Dua agama itu, Budha dan Siwa, sekaligus menjadi agama negara Majapahit. Pejabat tinggi atau pendeta yang termulia di seluruh kerajaan duduk sama derajat dalam melaksanakan segala kehidupan bernegara mulai dari pendidikan agama hingga soal pengangkatan pegawai dari masing-masing agama.
Pada masa kerajaan Majapahit, agama Budha dan Siwa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam kehidupan sosial baik secara fungsional maupun struktural dalam koridor negara Majapahit. Bahkan, dalam upacara kenegaraan, dua agama itu selalu diikutsertakan secara bersama. Sampai sekarang kalimat Bhinneka Tunggal Ika menjadi lambang negara Indonesia yang dililitkan dan dicengkeram oleh burung Garuda.
Ketika berkunjung ke Indonesia, November 2010, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengungkapkan kekagumannya terhadap falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity, kata Barack Obama dalam pidatonya di hadapan kalangan civitas akademika Universitas Indonesia, di Balairung UI Depok, 10 November 2010. Obama memuji nilai-nilai dasar yang dipegang bangsa Indonesia untuk menyatukan keragaman maupun agama dari Sabang sampai Merauke. Obama juga memberi contoh toleransi antarumat beragama. Masjid Istiqlal, yang merupakan masjid terbesar di Indonesia, misalnya, dirancang oleh Frederich Silaban, arsitektur yang beragama Kristen, pada tahun 1951.
Di sinilah sangat diperlukan toleransi, yaitu kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. Nilai-nilai yang membawa bangsa ini tegak perlu dipupuk agar perdamaian senantiasa tegak di tengah masyarakat yang majemuk ini. (Humas Setjend MPR-RI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *